Mereview, lantaran ada gerakan literasi di sekolah. Ada pidato Sunda, karena bahasa Sunda itu bahasa indung tidak boleh dilupakan, dan diaktualisasikan oleh perserta dengan pidato.
“Terakhir bercerita ibu kepada anak oleh kader PKK perwakilan dari tiap kelurahan,”ulasnya.
Adapun, jumlah peserta yang mengikuti perlombaan sebanyak 218 peserta, yang terdiri dari anak PAUD. Untuk lomba mewarnai sebanyak 94 siswa, peserta SD/MI dalam lomba review sebanyak 76 peserta, SMP sebanyak 15 peserta dan 33 peserta dari kader PKK.
Dilibatkannya para kader PKK, karena gerakan membaca harus digelorakan. Khususnya untuk ibu-ibu, agar mau membacakan buku kepada anak dan dilakukan secara terus menerus. Perpustakaan akan terus mengajak ibu-ibu, supaya mau membaca sehingga nantinya ibu menjadi panutan di rumah dan anak terbiasa membaca.
“Sehingga menjadi budaya dan terbentuk anak literal generasi bijak dan cerdas,”ulasnya.
Sementara itu, salah seorang peserta lomba pidato Sunda Andika Purnama, sangat mengapresiasi kegiatan itu. Sebab, saat ini masi banyak pelajar yang sering mengabaikan pentingnya budaya membaca, serta berbicara dengan bahasa Sunda.
“Saya ikutan lomba pidato Sunda, saya belajar Sunda hanya di sekolah dan melalui lomba saya belajar menerapkan bahasa Sunda yang sudah saya pelajari,”tandasya.
Meski dirinya asli orang Sunda, tapi cukup kesulitan dalam berbahasa Sunda yang sopan. Karena kebiasan remaja sekarang menggunakan bahasa Sunda yang lumayan kasar.



