Dosen Mengabdi IPB Sukabumi, Ingatkan Soal Pengelolaan Sampah

IPB
FOTO BERSAMA: Para dosen mengabdi IPB Sukabumi saat melakukan kunjungan ke KWT Kelurahan Babakan Kecamatan Cibeureum, belum lama ini. FT : IST

SUKABUMI— Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) Sukabumi menggelar program Dosen Mengabdi Reguler di Kelurahan Babakan Kecamatan Cibeureum, Jumat (26/8) lalu. Kegiatan dosen mengabdi ini merupakan salah satu program unggulan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB. Tujuannya, untuk memberikan kesempatan kepada dosen dalam membantu masyarakat khususnya dalam melakukan ahli teknologi dan memberikan solusi berdasarkan kajian akademik pada permasalahan-permasalahan yang ada.

“Adapun pemilihan Kelurahan Babakan ini merupakan salah satu kelurahan yang berada di Lingkar Kampus IPB Sukabumi. Dosen mengabdi kali ini merupakan bentuk respon aspirasi dari kelompok masyarakat yaitu Kelompok Wanita Tani (KWT) Sauyunan dalam menghadapi permasalahan pengelolaan sampah,” ujar Ketua Tim Dosen Mengabdi Reguler, Bahroin.

Bacaan Lainnya

Diterangkan dia, sampah sebagai produk sampingan dari kegiatan ekonomi (produksi, distribusi dan konsumsi) telah menjadi permasalahan dan perlu perhatian yang serius. Dampak buruk yang terjadi akibat sampah mencakup kepada semua aspek seperti aspek lingkungan, ekonomi dan sosial (KHLH, 2020). Permasalahan sampah melanda seluruh daerah di Indonesia tanpa terkecuali, termasuk Kota Sukabumi.

“Sebagai salah satu kota yang berada di Provinsi Jawa Barat, jumlah timbulan sampah Kota Sukabumi dalam kurun waktu tiga tahun terakhir menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Timbulan sampah Kota Sukabumi Tahun 2021 mencapai 65.795,65 ton/tahun, atau meningkat sebesar 0,6 persen jika dibandingkan Tahun 2020,” terangnya.

Menurut Bahroin, kondisi jumlah timbulan sampah yang terus meningkat belum sepenuhnya berhasil dalam pengelolaannya. Data tahun 2021 menyatakan bahwa Kota Sukabumi menjadi salah satu wilayah di Provinsi Jawa Barat yang memiliki tingkat persentase penanganan sampah tertinggi ketiga setelah Kota Bandung dan Kota Bogor. “Angka persentase penanganan sampahnya telah mencapai 74,81 persen (KLHK,2022). Sampah yang terkelola ini ternyata belum dapat dimanfaatkan lebih lanjut oleh Kota Sukabumi, hal ini terlihat dari data recycling rate pada tahun 2021 hanya mencapai 4,98 persen. Angka recycle yang rendah mengindikasikan adanya permasalahan pemilahan dari sumber sampah yang mengakibatkan sulitnya melakukan pengelolaan di tahapan selanjutnya (Widiarti, 2012),” jelasnya.

Mengacu pada kekhawatiran dan permasalahan sampah tersebut, Tim Dosen Mengabdi Reguler di Lingkar Kampus IPB Sukabumi yang beranggotakan tiga orang, yakni Dr. Adi Hadianto, Dr. Ujang Sehabudin dan Hendri Wijaya melakukan sosialisasi mengenai pengelolaan sampah rumah tangga bertajuk “Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Berkelanjutan Bernilai Ekonomi Berbasis Gender Equality and Social Inclusion (GESI)”.

Kegiatan guna memberikan edukasi dan pelatihan kepada ibu-ibu KWT agar terampil dalam melakukan pengelolaan sampah di rumah tangganya. “Kita berharap para ibu-ibu KWT bisa memilah dan memilih jenis dan karakteristik sampah dalam tahap pengelolaan sampah sejak dari sumbernya dan meningkatkan keterampilan anggota rumah tangga dalam tahapan pengurangan dan pemilahan sampah sejenis sampah rumah tangga,” imbuhnya.

Ditambahkan Bahroin, Kelompok Wanita Tani menjadi target sasaran dalam program pengabdian ini, dikarenakan wanita umumnya memberikan curahan waktu wanita dalam rumah tangga rata-rata 56,71 jam/minggu (Rosnita, 2014). Curahan waktu terbesar digunakan untuk kegiatan produktif sebesar 35,10 jam/minggu dan kegiatan reproduktif (mengurus rumah tangga) sebesar 25,61 jam/ minggu.

“Diharapkan dari perempuan dapat menjadi agent of change di dalam keluarga khususnya dalam merubah kebiasaan dalam pengelolaan sampah,” harapnya.

Bahroin mengungkapkan, terdapat tujuh tahapan pengelolaan sampah yaitu,pengurangan, pemilahan, pewadahan, pengumpulan, pengangkutan, pengolahan dan pemrosesan akhir sampah. Rumah tangga memiliki peran penting dalam empat tahapan awal yaitu pengurangan hingga pengumpulan, utamanya adalah dalam tahap pemilahan.

“Fokus pada pemilahan dimana kegiatan ini merupakan aktivitas mengelompokkan sampah sesuai dengan jenisnya sebelum masuk kepada wadah sampah. Secara umum terdapat tiga jenis pengelompokkan sampah yaitu sampah organik (sampah makanan dan serasah), anorganik (Kardus, botol minuman, kaleng, sisa kain, plastik, kertas, dan kaca) dan B3 (Kemasan obat serangga, kemasan oli, kemasan obat obatan, obat-obatan kadaluarsa, peralatan listrik, baterai dan peralatan elektronik rumah tangga). Sampah yang telah terpilah diharapkan dapat dikelola lebih mudah karena sudah spesifik bisa ditentukan teknologi yang akan digunakan,” ungkapnya.

Dalam kegiatan dosen mengabdi ini juga disampaikan mengenai alat kelola sampah rumah tangga hasil inovasi Prof. Dr. Arief Sabdo Yuwono dari IPB berupa Tempat Sampah SABDO (Sebelas Detik Aja Bio-Degradasi Organik). Sampah organik yang disimpan di Tempat Sampah SABDO ini akan terdegradasi karena terdapatnya larva BSF (black soldier fly). Produk yang dihasilkan setelah menggunakan Tempat Sampah SABDO ini adalah berupa kompos sebagai media tanam dan pupuk organik serta larva BSF sebagai salah satu sumber protein untuk pakan hewan ternak.

Inovasi ini diharapkan dapat menjadi solusi atas permasalahan sampah khusunya untuk sampah organik dan menciptakan produk yang bernilai ekonomi bagi anggota KWT. Harapannya tempat sampah SABDO ini nantinya dalam menjadi contoh dan insentif untuk para anggota KWT mengelola sampahnya dan berdampak positif pada kegiatan utama di sector pertanian.

Sementara itu, rendahnya angka pengelolaan sampah di tahapan pengolahan menjadikan masalah timbulan sampah di TPA Cikundul. Lurah Babakan Burhanudin menyampaikan, bahwa saat ini sudah 80 persen kapasitas TPA Cikundul sudah terisi. Hal ini dikhawatirkan untuk keberlanjutan pengelolaan sampah, terlebih jika mempertimbangkan tingginya laju pertumbuhan pendudukan dan sulitnya mencari lahan baru untuk TPA.

“Permasalahan TPA yang over capacity ini pernah terjadi sebelumnya di TPA Leuwih Gajah pada tahun 2005 lalu yang menyebabkan ratusan warga tewas terkena timbunan longsoran sampah. Untuk mencegah hal tersebut diperlukan peran aktif serta masyarakat khususnya dalam hal mengelola sampah dari rumah,” pungkasnya. (cr3/t)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.