SUKABUMI – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Sukabumi, mencatat selama Januari hingga Juli 2023 terdapat sebanyak 81 kali kejadian bencana yang tersebar di tujuh kecamatan.
Berdasarkan data dari Sistem Informasi Elektronik Data Bencana (SiEdan) BPBD Kota Sukabumi, bencana alam yang mendominasi yakni tanah longsor sebanyak 26 kali, kemudian disusul cuaca ekstrem sebanyak 22 kali, dan bencana terendah yakni angin puting beliung sebanyak 5 kali. Akibat kejadian bencana tersebut, nilai kerugian ditaksir mencapai Rp4,3 miliar.
Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Sukabumi, Zulkarnain Barhami menjelaskan, luas area terdampak 2,1896 hektar, dan 83 Kepala Keluarga (KK) dengan jumlah 95 jiwa. Selain itu, terdapat juga korban luka berat 1 orang, luka ringan 7 orang. Selanjutnya, 131 unit bangunan rusak, 13 unit rusak berat, 23 unit rusak sedang, dan 95 unit rusak ringan.
“Kerugian materi ditaksir mencapai Rp4.359.875.000. Tidak ada korban jiwa akibat bencana ini, hanya korban luka,” kata Zulkarnain kepada Radar Sukabumi, Kamis (3/8).
Ia menjelaskan, pada Maret merupakan frekuensi tertinggi yang dilaporkan masyarakat, tercatat ada 25 kasus, kemudian bulan Februari 16 kasus, disusul bulan Mei 11 kasus, lalu bulan Juni 10 kasus, selanjutnya Juli 8 kasus, dan terendah bulan Januari 1 kasus.
“Secara aggregate, jenis bencana tanah longsor dan cuaca ekstrem itu paling mendominasi, masing-masing 26 kali dan 20 kali,” bebernya.
Khusus pada Juli, tercatat ada 8 kali kejadian. Namun, kebakaran menjadi bencana yang mendominasi 6 kali kejadian pada bulan tersebut. Hal itu, dipengaruhi anomali cuaca yang memasuki puncak musim kemarau. Sedangkan untuk cuaca ekstrem itu ada 2 kali.
“Pada Juli ini jumlah jiwa terdampak 6 orang, bangunan rusak 13 unit dengan taksiran nilai kerugian Rp618.500.000, dengan luas 0,576 Ha terdampak,” pungkasnya. (Bam)






