KESEHATAN

Virus Corona Menular Lewat Kentut? Simak Penjelasannya

RADARSUKABUMI.com – Selama ini kita mengetahui bahwa virus corona bisa tertular dari benda-benda, droplet (percikan ludah), dan yang terbilang baru yaitu tinja seseorang. Kini kentut dipercaya bisa menularkan coronavirus.

Kemungkinan Kentut Menularkan Virus Corona

Pertama kali hal ini diutarakan oleh dr. Normal Swan, seorang dokter yang populer di Australia. Berbicara dalam podcast “Coronacast”, dr. Norman mengatakan bahwa orang harus menghindari kentut dengan jarak dekat satu sama lain untuk menghentikan penyebaran coronavirus.

Dia menambahkan, itu adalah tanggung jawab semua orang untuk tidak buang angin dekat orang lain. Pastikan juga bahwa Anda tidak kentut dengan pantat telanjang.

Diskusi yang tidak biasa terjadi setelah pemerintah Australia mengungkapkan pada Jumat pekan lalu, bahwa pihaknya akan menguji air limbah lokal sebagai bagian dari sistem pemantauan dan peringatan dini yang sedang berlangsung dalam wabah COVID-19.

Telah ditemukan, orang yang terinfeksi virus corona dapat ‘menularkan virus melalui kotorannya. Hal ini dapat dideteksi dalam air limbah.

Air limbah masyarakat sudah diuji setiap tahun untuk memantau penggunaan narkoba. Akan tetapi, peneliti justru menemukan wabah virus corona yang tidak terdeteksi melalui pengujian air.

Menteri Kesehatan Greg Hunt mengatakan pekan lalu, bahwa mendeteksi wabah dengan cepat tanggap lewat pengujian limbah akan menjadi bagian besar dalam langkah pemerintah ke depannya.

Sementara itu, menanggapi pertanyaan tentang kentut, dr. Norman mengatakan kalau pakaian dapat memberikan perlindungan dari coronavirus, sama seperti masker

Coronavirus Ditemukan di Tinja, Bukan Berarti Ada Dalam Kentut

Pernyataan dr. Norman Swan tampaknya masih menjadi perdebatan. Hal ini juga dikomentari oleh dokter asal Australia, dr. Andy Tagg. Menurutnya, penyebaran virus corona melalui kentut masih kurang penelitiannya.

Justru, dia mengungkapkan bahwa sampai saat ini masih tinja yang bisa menyebarkan virus corona. Salah satu penyebarannya adalah ketika Anda menyiram tinja.

Sebuah penelitian baru-baru ini menyarankan Anda untuk menyiram tinja dengan hati-hati. Kalau ada penutup pada kloset, sangat disarankan untuk menyiram (flush) sambil ditutup.

Selain itu, para ilmuwan telah mengonfirmasi bahwa penularan fecal-oral menjadi sebuah masalah karena adanya virus di dalam kotoran.

Hal yang sama diungkap oleh dr. Devia Irine Putri. Ia mengatakan, sampai saat ini belum ada penelitian kentut menjadi media untuk menyebarkan COVID-19.

“Kalau menurut WHO, penularan virus corona itu dari droplet, dan droplet ini muncul dari percikan bersin dan batuk dari penderita. Kita bisa terinfeksi kalau ada kontak langsung atau menyentuh permukaan benda yang terkontaminasi, kemudian kita menyentuh area wajah tanpa cuci tangan,” ujar dr. Devia.

“Pada beberapa kasus, gejala COVID-19 bisa menunjukkan diare. Nah, kalau kita terkontaminasi karena fesesnya, bisa saja. Tapi, kalau kentut sepertinya tidak bisa, ya,” tuturnya.

Sebenarnya Kentut Berbahaya atau Tidak?

Berbahaya atau tidaknya kentut terkait penyebaran virus corona, masih menjadi perdebatan. Jelas bahwa virus corona sebelumnya bisa dideteksi dari feses orang yang terinfeksi.

Dokter Andy Tagg yakin semua masih butuh lebih banyak bukti untuk bilang bahwa kentut bisa menyebarkan virus corona. Akan tetapi, dia meminta kita semua berhati-hati.

Kembali pada awal 2000-an, sebuah penelitian dilakukan terhadap kemungkinan kentut menyebarkan penyakit. Seorang dokter meminta seorang rekan untuk kentut pada cawan Petri dari jarak 5 cm.

Pertama saat memakai celana dan kemudian tanpa celana. Cawan pertama tetap bersih selama semalam, sementara yang satunya lagi tumbuh bakteri.

Tiongkok juga sebelumnya memperingatkan, jika seorang pasien yang terinfeksi kentut secara berlebihan saat tidak mengenakan pakaian dalam dan ada orang yang dekat dengannya menghirup gas tersebut, maka ia bisa berisiko terinfeksi.

Namun, semuanya perlu penjelasan lebih mendalam lagi dan pembuktian bahwa kentut bisa menjadi media penyebar virus corona. Kalau sampai benar, tentu ini menjadi sesuatu yang berbahaya.(klikdokter/izo/rs)

Tags
loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button