Atasi Tuberkulosis di Tengah Pandemi Covid-19

dr. Rasikha Anasha
dr. Rasikha Anasha Dokter Internship RS Islam Assyifa Sukabumi

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Gimana nih kabar sahabat sehat Assyifa?

Bacaan Lainnya

Semoga semua selalu dalam lindungan Allah SWT ya.

Hari Tuberkulosis (TB) Dunia diperingati setiap tahunnya pada tanggal 24 Maret, loh. TB merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis atau dikenal juga sebagai Bakteri Tahan Asam (BTA).

Angka kejadian TB dunia sekitar 10,4 juta kasus yang setara dengan 120 kasus per 100.000 penduduk. Indonesia menempati posisi kedua negara dengan penduduk terbanyak yang terinfeksi TB. Lima negara dengan insiden tertinggi yaitu India, Indonesia, China, Philipina, dan Pakistan.

Data terbaru oleh Global TB Report 2019, kejadian TB di Indonesia diperkirakan sekitar 845 ribu kasus dan akan terus meningkat setiap tahunnya.

Berdasarkan jenis kelamin, angka kejadian pada laki-laki 1,4 kali lebih besar dibandingkan pada perempuan. Hipotesis penyebab diperkirakan karena paparan faktor resiko TB seperti merokok dan kurangnya kepatuhan minum obat.

Gejala utama penderita TB paru yaitu batuk berdahak selama 2 minggu atau lebih. Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan seperti dahak bercampur darah, batuk darah, sesak nafas, nafsu makan menurun, badan lemas, berat badan menurun, demam meriang lebih dari satu bulan, dan berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik.

Dalam perspektif epidemiologi, TB merupakan penyakit dari hasil interaksi antar tiga komponen: pejamu (host), penyebab (agent), dan lingkungan (environment). Komponen penjamu terkait dengan kerentanan terhadap infeksi Mycobacterium tuberculosis yang dipengaruhi oleh daya tahan tubuh seseorang.

Seseorang dengan gangguan sistem imun atau memiliki status gizi yang buruk, sangat rentan terjangkit infeksi TB. DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse) merupakan salah satu strategi pelayanan kesehatan dunia, dengan tujuan untuk mendeteksi dan menyembuhkan penyakit TB.

Strategi ini diperkenalkan di Indonesia pada tahun 1995 dan telah diterapkan secara luas dalam sistem pelayanan kesehatan Indonesia.

Penting untuk mengenali tahapan pengobatan TB, karena dapat mempengaruhi kepatuhan dan keberhasilan pengobatan. Pengobatan TB dibagi menjadi dua tahap: tahap awal (intensif) dan tahap lanjutan.

Tahap intensif bertujuan untuk menonaktifkan kuman/ bakteri TB, sedangkan tahap lanjutan bertujuan untuk mematikan kuman/ bakteri TB. Total lamanya pengobatan TB minimal berlangsung selama 6 bulan, pada beberapa kasus khusus bahkan sampai 12 bulan.

Pencegahan dan pengendalian TB dapat dilakukan dengan, membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), membudayakan perilaku etika berbatuk, melakukan pemeliharaan dan perbaikan kualitas perumahan dan lingkungan, menjaga dan meningkatkan daya tahan tubuh, serta penerapan pencegahan dan pengendalian infeksi TB.

Sasaran nasional Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) pada Peraturan Presiden Nomor 59 Tahun 2017 tentang SDGs menetapkan target prevalensi TB pada tahun 2019 menjadi 245 per 100.000 penduduk.

Permenkes Nomor 67 Tahun 2016 tentang Penanggulangan Tuberkulosis menetapkan target program Penanggulangan TB nasional yaitu eliminasi pada tahun 2035 dan Indonesia Bebas TB pada tahun 2050.

Penanganan TB saat ini mendapatkan tantangan baru karena kehadiran virus corona yang menyebabkan Covid-19. Kita menyebabkan kematian bila tidak perlu berhati-hati dengan kejadian TB, karena TB dapat ditangani dengan tepat.

Penyakit TB dapat disembuhkan asal penderita taat mengikuti saran dan instruksi dokter saat melakukan pengobatan. Maka dari itu, penting bagi kita untuk mengetahui bagaimana penyakit TB dan pengobatannya.

Segera periksakan diri Anda jika memiliki gejala ke fasilitas kesehatan terdekat. Salam sehat untuk seluruh warga Sukabumi, penulis memohon maaf apabila terdapat kesalahan kata ataupun tulisan. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan