Warga Bojonggaling Sukabumi Menjerit, Semusim Gagal Panen

Longsor Desa Bojonggaling
Kondisi saluran irigasi yang gaga panen di Desa Bojonggaling Kecamatan Bantargadung Kabupaten Sukabumi,

SUKABUMI – Warga Desa Bojonggaling Kecamatan Bantargadung Kabupaten Sukabumi, meminta solusi dari Pemerintah Kabupaten Sukabumi terutama Badan Penanggulang Bencana Daerah (BPBD) atas bencana alam yang membuat saluran irigasi jebol.

Akibat bencana itu, ratusan hektare sawah terancam gagal panen dan puluhan perkebunan warga kekeringan.

Bacaan Lainnya

Tokoh masyarakat Desa Bojonggaling, Fery Hidayat Tullah mengatakan, jebolna saluran irigasi itu terjadi pada beberapa bulan lalu di beberapa titik dan secara bertahap. Puncaknya terjadi Desember 2021 lalu, sehingga aktifitas pertanian menjadi lumpuh dan gagal panen.

“Daerah yang terdampak akibat irigasi jebol itu merupakan satu kedusunan, yaitu Kedusunan Bihbul terdiri dari Kampung Bihbul, Kampung Cikiray, Kampung Sampalan, Kampung Parungtunggul, Kampung Cibitung, dan Kampung Keboncau, Desa Bojonggenteng,” ujar Fery kepada Radar Sukabumi, Minggu (16/01).

Ia menjelaskan, jebolnya saluran irigasi tersebut selain mengancam 125 hektare lahan pesawahan gagal panen akibat kekeringan, serta lahan perkebunan sekitar 99 hektare, dan peternakan warga. Selain itu, saluran sanitasi ke selokan juga terhambat.

“Sekarang ini para petani sudah tidak bisa lagi menanam padi dan gagal panen akibat lahan sawahnya kering, begitu juga perkebunan yang didominasi buah sawo, sayuran, peternakan serta saluran pembuangan dari masyarakat ke solokan tersendat, sehingga banyak nyamuk. Apalagi di sini sanitasi kurang, contoh pembuatan spiteng, sehingga membuangnya ke selokan,” ucapnya.

Fery mengaku sudah beberapa bulan ini belum mendapatkan solusi dari pihak BPBD Kabupaten Sukabumi. Setidaknya, sambung dia, warga bisa kembali bercocok tanam atau bertani untuk menutupi kebutuhan sehari-hari.

“Sejak Oktober 2021 lalu aktifitas kami (petani, red.) lumpuh total, tidak ada air kami sudah gotongroyong, namun membutuhkan alat berat dan alat lainnya untuk menutupi saluran irigasi agar air mengalir ke pesawahan,” ucap dia.

Di sisi lain, sebelumnya Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) sudah datang memantau lokasi di beberapa titik, namun belum memberikan informasi atau solusi yang signifikan. Baru sebatas akan memberikan pipa 30 centimeter dengan panjang 4 meter, itupun belum diterimanya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.