TPA Sukabumi Minim

BERSIH-BERSIH : Petugas DLH Kabupaten Sukabumi saat bersih-bersih sampah di sungai, belum lama ini.

SUKABUMI – Sampah menjadi salah satu persoalan utama di Kabupaten Sukabumi. Bayangkan saja, dalam sehari di wilayah terluas se Jawa dan Bali ini volumenya mencapai 1.480 ton. Ironisnya, volume sampah ini tidak sebanding dengan jumlah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang ada sekarang.

Sekertaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sukabumi, Budi Setiady mengatakan, Kabupaten Sukabumi memiliki dua TPA. Yakni TPA Sampah Cicurug dan TPA Sampah Cimenteng. “Paling banyak ditemukan jenis sampah dari aktivitas rumah tangga,” jelas Budi kepada Radar Sukabumi, kemarin (29/3).

Bacaan Lainnya

Dalam menanggulangi jenis sampah itu, Budi mengaku susah-susah gampang. Karena jenis sampah ini tidak mudah dihancurkan secara alami dan butuh waktu lama untuk mengurainya agar kembali menjadi unsur alam.

DLH Kabupaten Sukabumi pun telah menyarankan kepada seluruh elemen masyarakat dan kecamatan agar membuat bank sampah. “Kami sudah punya rencana seperti di kota-kota besar, dengan membentuk bank sampah.

Harus diingat ketika ada bank sampah, jenis sampah organik dan non organik itu sudah dipisah. Sampah non organik nantinya dikumpulkan dalam satu titik dan dibakar, uap bakarnya itu dijadikan bahan untuk energi pembangkit listrik. Sementara sampah organik dibuat untuk pupuk kompos,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Desa Sirnaresmi, Kecamatan Gunungguruh, Rizal Indarsyah mengatakan, dalam menanggulangi tumpukan sampah di wilayah yang tengah dipimpinnya itu, pihaknya mengaku telah melakukan sosialisasi dan mengajak warganya untuk peduli terhadap lingkungan sekitar.

Terlebih lagi, wilayah Desa Siranersmi merupakan daerah lintas perkotaan dan lingkungan industri yang berpotensi menjadi daerah yang rentan dengan tumpukan sampah dengan volumen melimpah.

“Apalagi di depan kantor desa ini terdapat pasar tradisional yang selalu di kunjungi warga dari berbagai daerah. Sehingga upaya pembersihan sampah pun menjadi perhatian serius,” jelasnya.

Untuk itu, pemerintah Desa Sirneresmi terus mengembangkan bank sampah yang sudah dibangun sejak 2016 lalu. Hal ini dilakukan untuk mengurangi pencemaran sampah yang dapat menyebabkan bencana alam dan dapat menimbulkan penyakit.

Apalagi saat ini memasuki musim hujan, tumpukan sampah akan menjadi sarang jentik nyamuk pembawa virus Demam Beradarah Dengue (DBD). “Upaya pengembangan bank sampah ini sebagai upaya menekan volume sampah yang cukup tinggi di lingkungan masyarakat,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *