SUKABUMI – Makanan ringan khas yang dikenal dengan nama enye telah menjadi produk unggulan bagi warga Kampung Margasari, Desa Bojongkembar, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi.
Kampung yang kini viral dengan nama sebutan Kampung Sadbor Joget Patuk Ayam tersebut, hampir seluruh warganya bekerja membuat makanan enye.
Salah seorang pemilik usaha Enye Mandiri, Enin (53) warga Kampung Margasari, RT 03/RW 09, Desa Bojongkembar, Kecamatan Cikembar kepada Radar Sukabumi mengatakan, bahwa usaha yang telah dijalaninya ini, sudah turun-temurun sejak tahun 1998 lalu, dan kini berkembang pesat menjadi sumber mata pencaharian utama bagi hampir seluruh warga di kampung tersebut. Usaha atau bisnis ini dimulai sejak era Pak Presiden Soeharto dan sudah menjadi warisan keluarga,
“Iya, sudah dari tahun 1998 dan ini turun-temurun dari waktu Pak Presiden Soeharto. Kalau di Bandung disebutnya kicimpring, nah kalau di sini sebutanya enye,” kata Enin kepada Radar Sukabumi.
Kini, hampir seluruh warga di Kampung Margasari menjadikan usaha pembuatan enye sebagai mata pencaharian utama mereka.
Untuk bahan dasar pembuatan enye ini adalah singkong, yang diproduksi dengan tambahan teri sebagai bahan utama. Dalam sehari, produksi enye ini mampu mencapai 1,4 ton singkong dan 4 kwintal teri.
“Proses produksi dilakukan secara rutin dan pengiriman dilakukan seminggu dua kali ke berbagai daerah, termasuk ke Bekasi, dengan harga jual enye rasa original sekitar Rp15.000 hingga Rp16.000 untuk enye rasa balado per bungkus,” ujarnya.
“Sekarang mah lagi meningkat. Dulu singkongnya mahal Rp2.200 per kilogram, sekarang turun jadi Rp1.700 per kilogram,” paparnya.
Meski harga bahan baku mengalami fluktuasi, omzet yang didapatkan dari usaha ini tetap stabil, dengan pendapatan mencapai sekitar Rp10 juta per bulan. Sebelumnya, omzet sempat turun menjadi sekitar Rp7 juta hingga Rp8 juta, akibat lonjakan harga singkong.






