KALIBUNDER – Mutiara Hasanah, putri kedua dari pasangam suami istri Umar dan Nurhasanah warga Kampung Cidadap, Desa Sukaluyu, Kecamatan Kalibunder, Kabupaten Sukabumi, mengalami hal yang tidak biasa
Diusianya yang sudah menginjak 9 tahun, sejak lahir, Mutiara telah memiliki perkembangan fisik dan syaraf yang tidak normal, dengan kedua tungkai kaki dan kedua tangan lumpuh. Sayangnya, kondisinya semakin memburuk hingga kini beranjak dewasa.
Menurit keterangan dari ayahanda Umar, kelainan pada Mutiara mulai terlihat saat berusia 18 bulan, di mana kedua kaki dan tangan lemah dan lumpuh hingga kini. Gangguan saraf otak pun menyerang tubuhnya, sehingga tubuhnya yang kurus untuk anak seusianya dan beberapa bagian tubuhnya tidak bisa digerakkan.
“Saat lahir anak saya normal timbangan beratnya itu 2,3 Kg kalau gak salah, cuman ketahuannya baru 7 bulan, anak yang lain biasanya udah jalan tapi ini berdiri pun susah,” ungkap Umar dengan suara nyaris menangis saat diwawancara. Minggu, (2/6).
Melihat hal tersebut, Umar mengaku sempat berupaya melakukan penanganan terhadap putrinya tersebut dengan membawa ke Puskesmas setempat, dan hasilnya tim medis menyarankan untuk membawanya ke dokter anak, dan dibawa ke rumah sakit yang ada di Kota Sukabumi, dan diketahui ada kelainan pada pertumbuhannya.
“Katanya ini harus ke medis Hermina, terus saya bawa juga enggak ada perkembangan, selama 3 bulan itu gak ada kenormalan, gak sembuh, terpaksa saya bawa pulang lagi,” lirihhnya.
“Nah dari sejak itu sampai sekarang tidak dibawa lagi ke rumah sakit karena saya orang enggak mampu, anak saya sekarang baru 9 tahun, sehari-hari hanya bisa bilang Bapak, Mamah segitu saja,” sambungnya.
Lebih lanjut Umar menerangkan, selain tidak bisa duduk dan beraktivitas layaknya anak seusianya, sulitnya mengonsumsi makanan juga menjadi salah satu masalah yang dihadapi anaknya tersebut, dimana hanya makan bubur dan asi yang sifatnya lembut dan halus, hal itupun tidak semuanya masuk terkadang dimuntahkan kembali.
“Iya kadang-kadang itu suka muntah juga, kata orang lain sempit tenggorokannya sempit, sering muntah makanya,” terangnya.
Saat ini Umar mengaku hanya bisa pasrah karena Kondisi keuangan keluarga pun tidak memungkinkan untuk biaya pengobatan lanjutan untuk anaknya Ia dan istrinya Nurhasanah hanya berprofesi sebagai seorang buruh tani dengan penghasilan yang terbatas.






