Ripki Sulaeman (23) anak ke satu M.Sulaeman mengaku sengaja membantu bapaknya untuk mengais rejeki lebih besar dibandingkan bernelayan. Juga aktivitas berjualan kali ini, merupakan kegiatan sampingan.
“Hampir setiap tahun, saya selalu mengagendakan membantu bapak berjualan terompet. Peluang satu tahun sekali ini, tidak kami sia-siakan. Dari pada tidak ada kegiatan lain disamping menjadi Nelayan yang sepi karena cuaca penghujan,”akunya.
Pembuatan terompet kreasi keluarganya itu, sengaja membuat sendiri tanpa membeli lagi dari kepengrajin. Membuat sendiri selain bahan baku relative sangat murah, juga membantu memberdayakan seluruh anggota keluarganya. Merangkai terompet dilakukan saat beristirahat. “Terompet dirangkai sendiri sesuai selera pembeli. Biasanya, terompet berbentuk naga, knalpot hingga saksofon,”katanya.
Sedangkan harga terompet, Ripki menjual dengan harga lebih murah dibandingkan dengan pedagang terompet lainnya. Dengan berbagai bentuk dan jenis. Rata-rata terompet hasil karyanya dijual kisaran lima belas ribu rupiah hingga tiga puluh ribu rupiah.
Namun itupun tergantung bentuk dan selera pembeli. “Biasanya setiap hari memperoleh keuntungan sebesar tiga sampai empat ratus ribu rupiah kalo habis. Keuntungan tersebut dikelola dengan membagi hasil keuntungan kepada seluruh anggota keluarganya secara merata,”tandasnya.
(cr1/d)




