DPKUKM Kabupaten Sukabumi Pastikan Stok Sembako Aman Selama 60 Hari

DPKUKM, Kabupaten Sukabumi
Kasi Distribusi Tertib Niaga DPKUKM, Kabupaten Sukabumi, Raden Iwan Wirawan saat meninjau sembako di salah satu pasar tradisional yang ada di wilayah Kabupaten Sukabumi.

SUKABUMI – Dinas Perdagangan, Koperasi Usaha Kecil dan Menengah (DPKUKM) Kabupaten Sukabumi memastikan kebutuhan sembako jelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) aman.

Kasi Distribusi Tertib Niaga pada DPKUKM Kabupaten Sukabumi Raden Iwan Wirawan mengatakan, seluruh kebutuhan sembako untuk warga Kabupaten Sukabumi tetap tercukupi. Seperti mulai dari beras, daging, sayur mayur, telor, gula, garam dan lainnya.

Bacaan Lainnya

“Untuk stok semabako, Inysa Allah aman selama 60 hari kedepan. Artinya, pada perayaan Natal 2021 dan Tahun Baru 2022, seluruh kebutuhan pokok masyarakat, tidak boleh cemas atau khawatir, karena stoknya aman sampai akhir Januari 2022 nanti,” kata Raden Iwan kepada Radar Sukabumi, Jumat (17/12).

Sementara untuk harga, sambung Raden Iwan, dinilai relatif stabil. Hal ini, bisa dilihat berdasarkan data yang tercatat di DPKUKM Kabupaten Sukabumi, mayoritas harga rata-rata kebutuhan pokok dan barang pentingnya lainnya yang berada di pasar tradisional.

Seperti harga beras premium sebesar Rp11 ribu per satu kilogramnya, beras medium Rp9 ribu per kilogramnya, gula pasir Rp13 ribu per kilogramnya, gula merah Rp17 ribu per kilogramnya, minyak goreng Rp20 ribu per satu liternya, minyak curah Rp20 ribu per satu kilogramnya.

“Kalau untuk sembako harganya masih stabil dan belum ada kenaikan secara signifikan. Sementara, nanti jika pada perayaan Natal dan Tahun Baru ada kenaikan harga pun kami yakini masih dibilang normal. Hanya saja, untuk harga minyak telah mengalami kenaikan,” ujarnya.

Kenaikan harga minyak ini, dinilai sulit turun. Karena harga minyak di dunia tengah melambung tinggi.

Terlebih lagi, harga minyak tersebut disesuaikan dengan dolar. Bukan hanya itu, minyak yang beredar di Indonesia, seperti di Sukabumi salah satunya, merupakan produk impor dari negara luar. Salah satunya dari Negara Malaysia.

“Kenaikan harga minyak goreng ini, dikarenakan pengaruh dari kenaikan harga minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO).

Sebenarnya, kalau untuk kelapa sawitnya di kita itu banyak, hanya saja untuk pengelolaan pabriknya tidak ada, makanya di luar negeri. Jadi, kalau untuk minyak goreng, itu kita zoometing dengan Kementrian.

Iya, Kementrian juga memang dengan adanya pandemi ini banyak karyawan yang di PHK juga di pabrik-pabriknya, otomatis produksi berkurang. Sehingga harga minyak dunia juga meningkat,” paparnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.