KABUPATEN SUKABUMI

Paceklik, Nelayan Ciemas Terpaksa Jual Perahu

×

Paceklik, Nelayan Ciemas Terpaksa Jual Perahu

Sebarkan artikel ini

CIEMAS— Akibat musim paceklik yang terjadi, sejumlah nelayan di Pantai Palampang, Ciemas, Kabupaten Sukabumi terpaksa menjual perahunya. Alasan menjual perahu kepada sejumlah pengusaha diluar Ciemas, tidak ada lain untuk mengurangi kerugian lebih besar lagi.”Kami terpaka menjual perahu yang biasa dipakai mencari ikan, karena pasca musim paceklik sangat kesulitan memperoleh hasil tangkapan ikan, ditambah perahu kebanyakan tidak terawat, ” kata salah seorang nelayan di Palampang Ciemas, Dudung (59) kepada koran ini, kemarin (27/9)

Dirinya, mengaku mengakui satu unit perahu tradisional jenis congkreng atau beleketek dijual seharga Rp 10 juta hingga Rp 12 juta. Padahal saat kondisi baru satu unit perahu dibeli seharga Rp 25 juta rupiah. “Ya mau bagaimana lagi. Soalnya perahu yang ada tidak bisa dimanfaatkan untuk melaut lagi, ” katanya.

bank BJB

Diakuinya selama beberapa pekan ini frekuensi gelombang atau badai di pantai laut lepas mengalami kenaikan hingga tiga sampai dua sampai emat meteran. Selain itu, hempasan angin barat sangat kencang. Kalau dipaksakan melaut, maka akan mengancam keselamatan nelayan. “Untuk mencegah hal-hal tak diinginkan, maka saya lebih memilih tidak dulu melakukan aktivitas mencari ikan dilaut lepas. Lebih-leboh cuaca sekarang ini dirasakan cukup ekstrem, ” ungkapnya.

Kendati demikian, masih ada nelayan yang tetap melaut karena tidak memiliki keahlian lain, mereka hanya bisa mencari ikan di tepian dan tidak sampai ke tengah karena tingginya gelombang yang dapat membalikan perahu. “Lebih-lebih cuaca selama beberapa pekan ini kondisinya cukup ekstrim dan sangat beresiko kalau dipaksakan untuk mencari atau menjaring ikan di laut, ” ungkapnya.

Meskipun saat ini harga ikan melonjak naik, hasil tangkapan nelayan saat ini tidak maksimal, sehingga hasil tangkapan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebetulnya memang harga pasaran ikan relatif selama beberapa pekan ini ada tanda-tanda peningkatan, namun pasokan ikan segar nelayan masih sangat minim, ” katanya

Berbeda dengan nelayan di pantai Palabuhanratu dan Cisolok, sejak tidak memilih melaut mereka lebih memilih untuk berjualan makanan dan minuman kepada para wisatawan yang hendak berekreasi kesekitar Pantai Palabuhanratu. “Saat ini, saya lebih memilih untuk berjualan untuk mencari penghasilan tambahan. Soalnya saya sangat membutuhkan biaya untuk menghidupi keluarga sehari-hari, ” ungkap salah seorang nelayan Cisolok, Jejen Jaenal(55).

 

(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *