KABUPATEN SUKABUMI

MCK Tak Lanyak Huni Dirobohkan Camat

×

MCK Tak Lanyak Huni Dirobohkan Camat

Sebarkan artikel ini
Camat Kebonpedes, Ali Iskandar bersama Muspika saat merobohkan MCK yang sudah tidak layak digunakan.

RADARSUKABUMI.com, KEBONPEDES — Banyaknya kasus gagal tumbuh pada anak usia dini (Stanting, red) yang terjadi di wilayah Desa/Kecamatan Kebonpedes, ternyata hampir 70 persen telah dipengaruhi oleh sanitasi. Pasalnya, kebiasaan buang air besar (BAB) sembarangan telah berdampak besar bagi kesehatan. Sehingga menyebabkan terjadinya stanting.

Camat Kebonpedes, Ali Iskandar mengatakan, faktor utama penyebab terjadinya stanting dan gagal tumbuh pada anak yang dapat menyebabkan putusnya generasi serta menghadirkan ketidak sejahteraan dan kemiskinan, telah dipengaruhi oleh dua penyebab utama.

Bank bjb Tandamata

Yakni, penyebab langsung telah dipengaruhi oleh asupan gizi. Sementara, penyebab secara tidak langsung dipengaruhi oleh sanitasi dan tumbuh kembang. “Namun, untuk kondisi di Kecamatan Kebonpedes hampir 70 persen penyebab utamanya adalah sanitasi,” jelas Ali kepada koran ini, kemarin (27/12).

Dari seluruh desa yang ada di wilayah Kecamatan Kebonpedes, sambung Ali, Desa Kebonpedes merupakan salah satu desa yang banyak ditemukan stanting. “Data awal tahun 2013 di desa ini, muncul stanting itu ada 368 orang. Kemudian kita validasi dan ditemukan 68 orang. Nah, pada 2018 kita kembali melakukan validasi dan ditemukan 8 orang stanting,” paparnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, saat ini mayoritas warga melakukan BAB di MCK dan tempat tertutup lainnya. Namun, ada sebagian warga yang melakukan BAB di atas kolam. “

Tetapi, kebanyakan tempat kloset ini hanya menampung untuk tempat BAB saja dan tidak ada spiteng. Sehingga pembuangan BAB tersebut, ke kolam dan saluran irigasi. Ya, jelas sekali hal ini akan berdampak besar bagi kesehatan dan dapat menyebabkan stanting,” bebernya.

Saat ini pola kesadaran masyarakat untuk membuang air besar di sanitasi sangat minim. Seperti di wilayah RW 2, Desa Kebonpedes, terdapat pembangunan MCK dengan besar anggarannya sekitar setengah miliar.

“Ternyata setelah kita tinjau kelapangan, sejak dari tahun 2015 sampai tahun 2018, MCK itu hanya dipakai sekitar satu minggu lamanya. Ya, artinya bukan persoalan program dan perhatian pemerintah yang jelek. Tapi persoalannya adalah kesadaran masyarakat. Sehingga yang dilakukan oleh kita adalah menghancurkan sejumlah MCK yang kondisinya sudah tidak memungkinkan,” imbuhnya.

Untuk itu, pihaknya terus menggencarkan validasi data mulai dari RT dan RW untuk membuat percontohan. “Ya, karena target kita pada awal Maret 2019 validasi data ini, harus sudah selesai. Jadi seluruh masyarakat di Desa Kebonpedes, bisa bebas buang air besar tidak pada tempatnya,” pungkasnya. (den/d)