Ditambahkan Hermawan, saat ini jadwal kepesantrenan di Pesantren Lapas Assa’adatuddaroen dibagi dalam beberapa waktu, mengingat lokasi masjid yang hanya menampung 500-600 orang, terlebih faktor keamanan Lapas. “Mulai ngaji jam 08.00 WIB hingga 10.30 WIB, sedangkan sore hari dari pukul 14.30- habis ashar,” tambahnya.
Sementara itu, Kasubsi Pembinaan, Upu Rahman mengapresiasi sinergitas Lapas dengan Pemerintah daerah dan MUI Kabupaten Sukabumi. Keberadaan Pesantren Lapas Assa’adatuddaroen ini memperingan dalam pembinaan para narapidana, apalagi dalam penambahan wawasan keagamaan.
“Seperti slogan kita Mereka Bukan Penjahat, Mereka Hanya Tersesat, Belum Terlambat Untuk Bertaubat,” terangnya.
Namun sambung dia, dalam pembinaan kepesantrenan ini, pihaknya masih kekurangan berbagai fasilitas. Seperti keberadaan Al-quran untuk mengaji dinilai masih kekurangan dan kitab tafsir para ustadz pun demikian.
“Idealnya ada 800 Al-quran yang stand by di masjid. Jadi one Man One Al-Quran. Saat ini Al-quran yang ada masih kurang, apalagi ada warga binaan yang membawa pulang Al-quran untuk bacaan di rumahnya,”terang dia.
Ia berharap, kedepan fasiilitas pesantren dan pendidikan keagamaan di Lapas III Warungkiara bisa tercukupi, sehingga warga binaan bisa dengan leluasa memperdalam agama Islam. (why)



