“Pemilik warung, anak sekolah sekarang nyaman melintasi jembatan ini. Kalau dulu, boro-boro sepeda motor, orang saja melintas ketakutan karena material jembatan sudah pada rusak,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Irvan (12), pelajar SD asal Kampung Cariu Rt (2/6) Desa Cijengkol, Kecamatan Caringin. Dirinya mengaku, dengan kondisi yang telah permanen ini, dirinya sudah tidak dihantui saat melintas. “Sekarang sudah tidak takut, bahkan kalau lari pun sudah aman. Kalau dulu, memang sering ketakutan,” singkatnya.
Ditempat terpisah, Kepala Desa Cijengkol, Kecamatan Caringin, Haer Suhermansyah menambahkan, pembangunan jembatan ini didanai sebuah komunitas yang peduli terhadap infrastruktur yang berdomisili di Jakarta.
Pihaknya, bukan tidak mengajukan kepada pemerintah daerah, hanya saja dengan kondisi jembatan ini sudah tidak memungkinkan jika harus menunggu perbaikan dari pemerintah.
“Awalnya memang kami ajukan kepada pemerintah daerah, namun karena ada komunitas yang akan membangunnya dengan cepat, kami putuskan untuk dibangun oleh komunitas itu. Jembatan ini menghabiskan dana sebesar Rp175 juta beserta jalan rabat beton yang menghubungkan kampung,” terangnya.
Pihaknya mengajak, setelah jembatan di difungsikan, agar masyarakat dapat menjaganya bersama-sama sehingga dapat digunakan dalam jangka panjang. Sebab, tanpa rasa memiliki dari masyarakat sekitar fasilitas sarana dan prasarana yang tersedia dapat mudah rusak.
(Cr15/d)





