Dua Menteri Tanam Pohon Pisang Canvendish di Warungkiara

  • Whatsapp
Menteri-Tanam-Pisang
Menteri ATR/BPN Sofyan Djalil bersama Menkop dan UKM Teten Masduki didampingi Bupati Sukabumi Marwan Hamami dalam giat menanam bibit pisang jenis Cavendish di lahan Tanah Objek Reforma Agraria (TORA) Warungkiara Sukabumi

SUKABUMI – Menteri Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Sofyan Djalil bersama Menteri Koperasi dan UKM (Menkop dan UKM) Teten Masduki melakukan aksi penanaman bibit pisang jenis Cavendish di lahan Tanah Objek Reforma Agraria (TORA) di Sukabumi.

Menteri ATR/BPN Sofyan Djalil mengatakan, selain penanaman bibit pisang Canvendish, tepatnya di Kampung Lio, Desa Sirnajaya, Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi itu, juga sekaligus untuk memberikan dukungan untuk masyarakat di sana.

Bacaan Lainnya

“Terutama bagi petani yang tergabung dalam koperasi di sini, mau menanam pisang Cavendish di atas tanah retribusi ini dulu bekas tanah perkebunan, yang terlantar tidak diperpanjang lagi lalu kita bantu bagikan kepada masyarakat,” ujarnya kepada awak media, Selasa (23/11).

Lahan tersedia yang diberikan kepada kelompok masyarakat dengan luas 320 hektare (Ha). Tidak hanya itu, warga juga dibekali dengan pengetahuan bagaimana petani ini dapat menanam pisang Cavendish. Maka dari itu, bekerjasama dengan PT Great Giant Pinapple (GPP).

“Tapi kita yakin memberikan tanah saja tidak cukup, mereka harus diberikan pengetahuan lanjutan. Maka dalam hal ini kami menjalin kerjasama dengan PT GGP untuk menanam pisang Cavendisth,” paparnya.

Ia meyakini kombinasi teknologi yang diberikan perusahaan dan organisasi yang baik maka akan berbuah baik dan diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “Insya Allah, nanti kita akan lihat daerah ini akan menjadi produksi pisang Cavendish yang utama,” tandasnya.

Sementara itu, Menkop dan UKM, Teten Masduki menilai, pemanfaatan tanah TORA kepada masyarakat akan menimbulkan efek yang baik dalam perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.

“Pemanfaatan tanah redis TORA kepada masyarakat, lalu dikelola untuk kesejahteraan ekonomi supaya masyarakatnya terus sejahtera, sebab ada bahaya juga kalau tanah luas didistribusi menjadi sempit-sempit itu menjadi tidak produktif,” jelasnya.

Ia menegaskan, kerjasama ini menjadi model yang bagus, jadi mengembangkan model bisnis penerima manfaat dari tanah tora dalam bentuk koperasi pangan, sehingga pertaniannya memiliki daya saing.

“Dengan begini diharapkan bahwa retribusi lahan itu juga bisa tetap membangun dalam bentuk koperasi untuk membangun ketahan pangan. Kami berdua berkomitmen untuk mengembangkan model bisnis pertanian berbasis koperasi untuk menerima perhutanan sosial dan juga TORA,” tandasnya. (ris/t)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *