Berburu Lobster, ABK Asal Ujunggenteng Sukabumi Tewas di Pantai Ciroyom

  • Whatsapp
Petugas gabungan bersama warga setempat saat mengevakuasi Asep (40) seorang ABK asal Kampung Ujunggenteng, RT 01/01, Desa Ujunggenteng, Kecamatan Ciracap, ditemukan tewas saat melaut di pantai Selatan Sukabumi, Senin (16/11).

SUKABUMI, RADARSUKABUMI.com – Nasib nahas menimpa Asep (40) seorang Anak Buah Kapal (ABK) asal Kampung Ujunggenteng, RT 01/01, Desa Ujunggenteng, Kecamatan Ciracap, ditemukan tewas saat melaut di Pantai Ciroyom, Senin (16/11).

Ketua Tim Search And Rescue Daerah (SARDA) Kabupaten Sukabumi, Okih Pajri Assidiq mengatakan, peristiwa ini bermula saat korban pergi melaut sekira pukul 10.00 WIB menuju perairan laut Ciroyom, Kecamatan Surade.

Bacaan Lainnya

“Korban sengaja pergi melaut untuk penangkapan ikan benur atau baby lobster. Namun, setiba di lokasi korban muntah-muntah dan akhirnya korban meninggal dunia,” kata Okih kepada Radar Sukabumi, Senin (16/11).

Lebih lanjut ia menjelaskan, korban telah pergi melaut dengan menggunakan perahu Jaya Muda milik Yadi asal Jakarta bersama temannya yang merupakan Nahkoda yang diketahui Pepen atau Ogut (46) asal warga Desa Cikahuripan, Kecamatan Cisolok.

“Korban telah menghembuskan nafas terakhirnya sekira pukul 06.00 WIB di perairan laut Ciroyom,” paparnya.

Setelah mendapatkan informasi tersebut, petugas gabungan bersama warga dan nelayan setempat langsung mengevakuasi korban ke rumah keluarganya di wilayah Ujung Genteng, Kecamatan Ciracap. “

“Korban langsung kami bawa ke rumah duka untuk dilakukan pemulasaran dan rencananya akan dikebumikan oleh pihak keluarganya pada hari ini juga di tempat pemakaman umum (TPU) yang lokasinya tidak jauh dengan rumah duka,” tandasnya.

Pihaknya menambahkan, korban yang meninggal di perairan laut Selatan Sukabumi ini, bukan karena laka laut. Akan tetapi, korban meninggal karena sakit saat ia tengah pergi melaut untuk mencari ikan baby lobster.

“Iya, korban meninggal karena sakit. Indikasinya, dari masuk angin berat dan sakit lambung.

Pihak keluarganya dapat menerima kejadian tersebut sebagai musibah. Sehingga jasad korban tidak dilakukan otopsi atau visum dan langsung dilakukan pemulasaran untuk dikebumikan,” pungkasnya. (Den)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *