Engkus menceritakan, Alya terpaksa menjalani kemoterapi itu untuk mengeluarkan cairan yang menyebabkan benjolan pada bagian mata dan pipi. Namun proses yang dijalaninya sungguh membuat keduanya menghela nafas panjang. Pasalnya, tim medis menyedot benjolan anaknya itu melalui tenggorokan. “Benjolan Alya sudah menutup rahang tenggorokan, jadi dokter terpaksa menyedotnya melalui tenggorokan. Itu sungguh menyedihkan bagi kami,” akunya.
Senada dikatakan Engkus, Rita menambahkan, selama kemoterapi berlangsung, Alya beberapa hari terakhir ini tidak masuk makanan sama sekali. Itu karena, mulut Alya sudah tidak bisa dibuka lantaran benjolannya semakin membesar. “Sudah beberapa hari, sebelum ia meninggal, Alya tidak bisa makan dan minum, karena mulutnya sudah tertutupi oleh benjolan yang menurut keterangan dokter disebut dengan penyakit retino blastoma,” ceritanya.
Meskipun ia merasa kehilangan, tapi setidaknya Rita mengaku lega. Karena, Alya kini sudah tidak akan merasa sakit lagi. Ia pun berharap, Alya mendapatkan tempat yang laik di sisi Allah. “Sedih sudah pasti, tapi kini ia tidak akan merasa kesakitan lagi. Bayangkan, diusia yang ke 3,5 tahun, selama 1,5 tahun ia merasakan sakit. Semoga Allah menempatkan ia di tempat yang layak,” pungkasnya dengan mata berkaca-kaca.
Jenazah almarhum di kebumikan pada pukul 09.00 WIB, Senin (25/12), sekitar 15 meter dari kediamannya. (Cr13/t)





