Dewi (35), buruh pabrik di kawasan industri Cibadak, mengaku harus mengeluarkan Rp30 ribu setiap hari untuk ongkos pulang-pergi. “Gaji buruh sudah minim, ditambah harga kebutuhan pokok naik. Transportasi jadi beban tambahan,” keluhnya.
Warga berharap pemerintah segera turun tangan. Mereka menilai pembukaan trayek angkutan umum bukan sekadar solusi mobilitas, tetapi juga langkah strategis untuk menekan biaya hidup dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
“Harapan kami sederhana: ada angkot atau kendaraan umum yang melintasi wilayah ini. Itu saja sudah sangat membantu,” tutup Abah Oding.(den/d)






