Waspada Kasus Flu Babi Afrika, Jabar Siaga

Petugas sedang mengambil sampel untuk diperiksa terkait temuan Singapura yang menyatakan babi asal Pulau Bulan, Batam terkena flu babi Afrika. (Foto : Kementan)
Petugas sedang mengambil sampel untuk diperiksa terkait temuan Singapura yang menyatakan babi asal Pulau Bulan, Batam terkena flu babi Afrika. (Foto : Kementan)

BANDUNG — Sebagai langkah pencegahan kasus flu babi Afrika (African swine fever/ASF) menular ke manusia.¬† Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Jawa Barat menerjunkan tim ke dua pusat peternakan babi terbesar di Jawa Barat yakni Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Bogor

“Kami memastikan sampai saat ini tidak ditemukan kasus flu babi Afrika,” kata Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner DKPP Provinsi Jawa Barat Suprijanto ketika dihubungi di Bandung, Jabar, Selasa.

Bacaan Lainnya

Menurut dia, berdasarkan pemeriksaan tim yang dikerahkan ke lapangan, pihaknya memastikan tidak ada laporan terkait flu babi Afrika di kedua daerah sentra tersebut. Sejauh ini, kasus flu babi Afrika masih ditemukan di luar Pulau Jawa, seperti Riau dan Sulawesi Selatan.

“Kalau untuk Jawa Barat tidak banyak, hanya daerah tertentu yang banyak ternak babi, di Kuningan dan Gunung Sindur Bogor, fokusnya di sana,” katanya.

Suprijanto memastikan kasus flu babi Afrika belum ada di Pulau Jawa, hasil ini diketahui dari komunikasi pihaknya dengan aparat veteriner di Yogyakarta. “Dari teman-teman di sana juga tidak ada,” ujarnya.

Dia mengatakan dari hasil pemeriksaan, pihaknya memastikan tidak ada laporan terkait flu babi Afrika di kedua daerah sentra tersebut. Sejauh ini, kasusnya masih ditemukan di luar Pulau Jawa, seperti Riau dan Sulawesi. Meskipun tidak ada kasus pihaknya sudah menghimbau agar para peternak babi di Jawa Barat bersikap waspada, selain itu pihaknya juga melakukan deteksi lalu lintas hewan di sejumlah titik guna meningkatkan pengawasan.

Kabupaten Kuningan dan Bogor selama ini memasok babi untuk kepentingan hewan potong ke Jakarta dan Kota Bandung. Suprijanto memastikan meski memasok, jumlah hewan babi yang dikirim ke rumah potong hewan relatif kecil.

“Yang dari Kuningan itu ke RPH babi di Kota Bandung paling hanya 15 hingga 20 ekor per hari, tidak banyak,” katanya.

Virus demam babi Afrika di Indonesia pertama kali teridentifikasi di Medan, Sumatera Utara pada 2019, yang kemudian menyebar ke sejumlah wilayah di Indonesia seperti NTT, Bali, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Pada April 2023, kasus kembali ditemukan di Pulau Bulan, Batam, Kepulauan Riau, yang menjadi satu-satunya wilayah yang mengirimkan babi hidup ke luar Indonesia.(*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *