Dalih Keinginan Siswa, Dua SMAN di Sumedang Study Tour ke Bali: Saat Masa PPDB 2024

SMAN 1 Sumedang
STUDY TOUR: SMAN 1 Sumedang, Jalan Prabu Geusan Ulun, Kecamatan Kotakulon, Sumedang. (foto: ron's/ Radar Sukabumi)

RADAR SUKABUMI – Seperti diketahui belum lama ini atau masih dalam masa/suasana pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun 2024 (bulan Juni dan Juli), SMAN 1 dan SMAN 1 Cimalaka, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat (Jabar), melaksanakan study tour ke Bali.

Tak urung ratusan siswa rerata kelas XI di dua SMAN tersebut, mengikuti kegiatan study tour dengan biaya akomodasi sekitar Rp3 juta per siswa. Merebak kabar pernyataan dari pihak sekolah dan komite, yang berdalih kegiatan dan tempat tujuan study tour itu atas keinginan siswa.

Bacaan Lainnya

Menanggapi hal tersebut, E. Yoshevin, salah seorang aktivis dan pengamat pendidikan Kota Bandung, mengatakan bahwa dalih seperti itu bisa saja terbantahkan. Karena, pimpinan/pihak sekolah dan komite berhak memberikan keputusan yang bijak.

“Boleh-boleh saja berdalih seperti itu, tapi pimpinan sekolah dan komite tentu punya keputusan dan atau kebijakan lain. Misalnya, study tour di luar kota namun masih dalam provin Jabar,” terang Eyos (sapaan akrabnya), Kamis (11/7/2024).

Bahkan, pasca peristiwa kecelakaan bus pariwisata di kawasan Ciater Subang beberapa waktu lalu, yang membawa rombongan siswa study tour. Pj Gubernur Jabar telah memberikan imbauan dengan dikeluarkannya Surat Edaran (SE) nomor: 64/PK.01/Kesra, tentang pelaksanaan study tour di satuan pendidikan.

“Ya, SE tersebut sebagai langkah antisipatif dari Pj Gubernur, agar pihak sekolah (termasuk komite) membuat keputusan bijak terhadap siswa dalam kegiatan study tour tersebut. Artinya, bisa dilaksanakan namun tidak harus ke luar provinsi Jabar,” tutur Eyos.

Lebih lanjut ia menjelaskan, bahwa study tour bagi siswa merupakan kegiatan yang dilakukan di luar lingkungan sekolah, untuk belajar dan mengetahui suatu proses secara langsung atau dengan kata lain karya wisata.

Study tour juga bukan merupakan kurikulum wajib. Harapannya, tidak sekedar berwisata, namun setidaknya dengan study tour, siswa dapat mengetahui bekal pengetahuan atau proses belajar secara langsung dan dapat mempraktekkannya, kata Eyos.

“Meskipun tidak ada larangan yang mengikat soal study tour, karena itu hanya agenda (rutin) siswa setiap akhir tahun pelajaran,” pungkas Eyos yang juga (mantan) Sekretaris komite sebuah SMAN di Bandung.

Terkait hal tersebut, Kepala SMAN 1 Cimalaka sekaligus selaku Plt SMAN 1 Sumedang, Ade Rohaendi, belum memberikan penjelasan. Beberapa kali dihubungi melalui telepon selulernya, tidak merespon.

Sementara itu, Kepala Cabang Dinas Pendidikan (KCD) Wilayah VIII, Endang Susilastuti, saat dimintai penjelasan soal rekomendasi dari KCD, dihubungi melalui selulernya, belum ada tanggapan. (Ron)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *