SUKABUMI — Menyambut usia satu abad Nahdlatul Ulama (NU), Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) menggelar refleksi kebangsaan bertajuk Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia.
Momentum ini, menjadi penanda penting perjalanan NU sekaligus ajakan untuk menatap masa depan bangsa dengan lebih visioner.
Perwakilan PWNU Provinsi Jawa Barat, Eman Sulaeman mengatakan, peringatan satu abad NU bukan sekadar agenda seremonial, melainkan refleksi mendalam atas peran historis NU dalam menjaga keutuhan bangsa dan moralitas umat sejak sebelum kemerdekaan hingga hari ini.
“Seratus tahun pertama NU telah berhasil meletakkan fondasi kebangsaan yang kokoh,” kata Eman kepada wartawan, Sabtu (31/1).
Memasuki abad kedua, tantangan NU semakin kompleks, yakni memastikan kemerdekaan Indonesia terus bergerak menuju peradaban yang berkeadaban, berkeadilan, dan berakhlak.
“Nahdlatul Ulama bukan hanya bagian dari sejarah, tetapi aktor utama yang menulis sejarah bangsa. Di usia satu abad ini, NU memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan kemerdekaan Indonesia tetap berada di jalur yang benar, menuju peradaban yang mulia,” ujarnya.
Ia menegaskan, peradaban mulia yang diperjuangkan NU berakar pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah, seperti sikap moderat, keseimbangan dalam berpikir dan bertindak, serta keadilan dalam menyikapi perbedaan.
“Nilai-nilai tersebut dinilai relevan dalam menghadapi tantangan globalisasi dan disrupsi sosial,” ujarnya.
Dalam menyongsong abad kedua, Eman menyebut NU memiliki tiga fokus utama yang harus diperkuat. Yakni, pengembangan sumber daya manusia melalui pendidikan yang adaptif terhadap kemajuan teknologi, namun tetap berlandaskan akhlak dan tradisi pesantren.
Selain itu, penguatan kemandirian ekonomi umat. Tanpa kedaulatan ekonomi, sulit bagi umat dan bangsa untuk menjaga martabat serta kedaulatan di tengah persaingan global.
“Tak hanya itu, menjaga harmoni sosial, NU dipandang memiliki peran strategis dalam merawat persatuan bangsa di tengah meningkatnya polarisasi, intoleransi, dan paham ekstrem yang berpotensi merusak persaudaraan antarumat beragama maupun sesama anak bangsa,” ucapnya.
Eman mengajak, seluruh warga nahdliyin untuk melakukan reorientasi gerakan yang lebih adaptif dan responsif terhadap perubahan zaman, tanpa meninggalkan jati diri ke-NU-an.
Peringatan satu abad ini disebutnya sebagai titik awal untuk memperkuat kontribusi NU dalam pembangunan nasional.
“Peradaban tidak dibangun dengan kebencian dan perpecahan, tetapi dengan keteladanan dan akhlakul karimah. Abad kedua NU harus menjadi momentum kebangkitan peradaban Indonesia yang membawa rahmat bagi semua,” tutupnya. (Bam)






