DN sendiri merupakan salah satu tuna susila asal Soreang, Kota Kembang. Gadis berbehel ini baru membuka pembicaraan. Dari penuturannya, ada sekitar 34 rekan yang baru menginjakkan kaki di Bogor. Mereka rata-rata ditarif 400-500 ribu untuk per boking.
“Ya masalahnya saya di sini kerja, Aa. Baru dua bulan di sini. Jadi terima saja enggak tahu kerjannya begini,” tuturnya. Kisah pilu mulai diungkapkan DN, menurutnya, meski ditarif dengan harga tinggi namun tak banyak upah yang diterimannya. Di sana, algojo sudah memotong kutipan-demi kutipan. “Paling saya kebagian 100 ribu, Aa. Malah kadang 70 ribu,” akunya.
Tepisah, pengakuan RN lebih mengejutkan. Selama berkerja sebagai PSK, dirinya dikurung bak burung dalam sangkar. Usai lelah memusakan pelanggan, ada algojo yang menjemputnya. Jika berusaha kabur, lebam di wajah menjadi taruhannya.
“Kalau kabur ya dipukul bisa aja jadi dijagain kita sampai ke kontrakan terus pagar di kunci,” ungkapnya.
Pada Jumat 22 September lalu, Lokalisasi Gang Semen, Kecamatan Megamendung, ini sempat diacak-acak Satpol PP Kabupaten Bogor. Sebanyak 30 Pekerja Seks Komersial (PSK) berhasil terjaring di sejumlah rumah brodir.
Menurut Camat Megamendung, Hadijana mengungkapkan, informasi ini telah ditelusuri oleh pihak kecamatan. Namun setiap kali patroli, tidak ada satupun aktifitas demikian. Kecamatan mensinyalir adannya lokasi lain untuk memasok ke Gang Semen.




