JAWA BARAT

Innalillahi, Tokoh Pendiri PKS Hilmi Aminuddin Meninggal Dunia

LEMBANG – Mantan Ketua Majelis Syura Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Ustadz Hilmi Aminuddin meninggal dunia, Selasa (30/6/2020), pukul 14.24 WIB.

Tokoh perintis PKS tersebut tutup usia di RS Santosa, Jalan Gardujati, Kota Bandung.

Almarhum telah dimakamkan dengan prosedur protokol kesehatan COVID-19.

Juru bicara keluarga, Sutisna mengatakan, almarhum dimakamkan di pemakaman keluarga, di Lembang, Kab. Bandung Barat sekitar pukul 18.30 WIB.

“Almarhum tiba di pemakaman jam 18.30 WIB, langsung dimakamkan dengan protokol kesehatan COVID-19, jenazah beliau tadi berangkat dari RS Santosa,” jelas Sutisna.

Sutisna mengatakan, keluarga almarhum turut hadir dalam pemakaman tersebut dengan menerapkan protokol kesehatan. “Jadi, setelah pemakaman barang-barang alat pelindung diri dimusnahkan, pokoknya seperti itu lah protokolnya,” ungkapnya.

Ia mengatakan, dugaan meninggalnya almarhum karena memiliki riwayat penyakit jantung yang diidapnya sejak lama dan dirawat di rumah sakit sejak Jumat pekan lalu.

Hari ini pihak keluarga belum mengizinkan pelayat datang dan takziyah. Rumah duka disterilkan. Namun besok sudah diizinkan menerima pelayat yang ingin bertakziyah.

Namun, dikatakannya, beberapa tokoh PKS juga sudah sempat melayat ke rumah duka. Di antaranya mantan Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan dan Anggota Komisi IX DPR RI fraksi PKS, Adang Sudrajat.

“Dari PKS Pusat juga mungkin besok sebagian ada yang datang,” ucapnya.

Meninggalnya Hilmi Aminuddin meninggalkan duka mendalam bagi kader PKS di Kab. Bandung Barat.

Ketua DPD PKS Bandung Barat, Rismanto mengatakan, almarhum tokoh pendiri partai yang kerap kali memberikan pesan kepada kadernya untuk senantiasa berbuat baik kepada sesama.

“Beliau adalah guru, orang tua, pembimbing bagi para kadernya,” kata Rismanto kepada Radar Bandung, Selasa (30/6).

“Beliau juga selalu mengingatkan seluruh kegiatan yang dilakukan semuanya harus berorientasi pada Lillahita’ala (karena Allah SWT) termasuk dalam kegiatan politik,” tambahnya.

Selain itu, aktivitas politik yang dilakukan PKS sampai saat ini tentunya harus dijadikan sebagai sarana dakwah dalam menyebar luaskan kebaikan.

“Beliau juga sering menasehati kami untuk senantiasa menjaga ukhuwah di antara kaum muslimin dan seluruh bangsa Indonesia,” ucapnya.

Diketahui, selain pendiri PKS, Hilmi Aminuddin merupakan pendiri gerakan dakwah atau yang di era 1980-1990-an dikenal dengan sebutan harakah tarbiyah dan kini ia menjabat sebagai.

Pria yang dikenal dengan panggilan Ustad Hilmi ini adalah putra Danu Muhammad Hasan, satu dari tiga tokoh penting Darul Islam (Tentara Islam Indonesia) pimpinan Kartosoewirjo.

Pada usia enam tahun, Hilmi memulai pendidikannya dengan mendaftar di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Usai lulus, dia berkelana ke sejumlah pesantren di Jawa.

Pada tahun 1973, Hilmi memutuskan untuk berangkat ke Arab Saudi dan belajar di Fakultas Syariah Universitas Islam di Madinah. Selama enam tahun menuntut ilmu di universitas tersebut, Hilmi kerap berkumpul dengan Yusuf Supendi yang juga merupakan tokoh perintis PKS. Kala itu Yusuf sedang berkuliah di Universitas Imam Muhammad Ibnu Saud, Riyadh.

Sekitar tahun 1978, Hilmi lulus kuliah dan pulang ke Indonesia. Sepulangnya dari Arab Saudi, Hilmi memulai kariernya dengan berdakwah. Tapi karena Hilmi tidak memiliki Pondok Pesantren seperti kebanyakan ulama di Indonesia saat itu, Hilmi pun berdakwah dari masjid ke masjid, atau dari satu kelompok pengajian ke kelompok pengajian lainnya.

Pada tahun 1998, Hilmi bersama beberapa rekannya mendirikan Partai Keadilan (PK) dan pada tahun 2002, partai tersebut berganti nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) agar bisa ikut pemilihan umum dua tahun berikutnya.

Karena baru didirikan dan hanya mendapatkan 7 kursi di parlemen, atau 1.5 persen maka peranan PKS saat itu belum begitu kelihatan dan lebih fokus ke dalam partai. Pada tahun 2005, Hilmi ditunjuk menggantikan Rahmat Abdullah yang meninggal dunia untuk menjadi Musyawarah Majelis Syuro I yang merupakan lembaga tertinggi di PKS.

Saat itu, Hilmi Aminuddin terpilih melalui mekanisme voting tertutup dengan mendapatkan 29 suara dari 50 anggota Majelis Syuro. Dia mengungguli tiga calon lainnya yakni Salim Segaf Al-Jufri (12 suara), Surahman Hidayat (8 suara) dan Abdul Hasib Hasan (1 suara).

Pada tahun 2010, Hilmi kembali terpilih menjadi ketua Majelis Syuro dalam Pemilihan Raya (Pemira) Majelis Syuro PKS. Mekanisme Pemira untuk memilih angota majelis syuro yang baru ini selayaknya pemilu.

Jumlah anggota MS yang dipilih ada 99 orang. Dalam pemira ini, PKS telah membentuk panitia prapemira yang akan menyeleksi sekitar 1.000 anggota ahli PKS menjadi 195 calon nama.

Penyeleksian tersebut berdasarkan syarat yang telah ditetapkan oleh AD/ART. Dari 195 nama ini akan dipilih 65 nama terbanyak. Setelah diambil sumpahnya, mereka yang terpilih ini akan menunjuk 32 nama sebagai anggota ahli majelis syuro. Sedangkan dua anggota lainnya adalah anggota tetap majelis syuro yaitu Hilmi Aminuddin dan Salim Segaf Al-Jufri.

Tags
loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button