Beberapa perubahan telah direncanakan untuk Mangle terbitan baru ini, salah satunya cover majalah yang selalu menampilkan perempuan akan diganti. “Kita akan mengarahkan Mangle menjadi majalah kebudayaan dan pengetahuan soal budaya,” kata mantan Rektor Unpad tersebut.
Materi berita yang mengejar aktualitas, rencananya bakal ditinggalkan Mangle. Majalah itu akan mengandalkan karya dari para penulis, bukan lagi wartawan dengan fokus pada soal kebudayaan.
Penulisnya tidak hanya dari kalangan internal redaksi melainkan juga terbuka untuk umum dan pengelolaan Mangle bukan merupakan kegiatan bisnis. “Unpad hanya bertanggung jawab terhadap kebudayaan salah satunya ke majalah (Mangle) yang sudah ada sejak 1957. Dan majalah berbahasa Sunda ini merupakan kekayaan budaya yang tersisa,” ujarnya.(*)






