JAWA BARAT

BEM PTAI Geruduk Gedung Sate

×

BEM PTAI Geruduk Gedung Sate

Sebarkan artikel ini

Jelang Pimilu 2019, ucapnya, suhu politik sudah mulai memanas dan membuat banyak kegaduhan sejak 2017, saat Pilgub DKI Jakarta yang memicu polarisasi politik SARA secara nasional.

Politik berorientasi sentimen SARA, katanya, menjadi alat dan senjata bagi para elit dan politisi bangsa untuk mewujudkan ambisi mereka, padahal kondisi seperti itu sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara.

Bank bjb Tandamata

Setelah Pilkada Jakarta selesai, matanya, belum lama ini muncul berbagai pernyataan yang bernada pesimistis terhadap masa depan Indonesia. Parahnya lagi, katanya, pernyataan tersebut hadir dari kalangan para tokoh yang memiliki pengaruh kuat.

“Bahkan baru-baru ini muncul pernyataan yang lebih mengejutkan, di mana salah satu tokoh yang seharusnya menjadi panutan, tokoh reformasi sekaligus guru bangsa membuat pernyataan yang cenderung provokatif dengan membagi partai politik di Indonesia menjadi dua golongan, ada partai Tuhan dan ada partai setan, jelas pernyataan seperti ini sangat tidak elok yang justru akan merusak proses demokrasi yang sedang kita bangun mati-matian,” katanya.

Sebelumnya, isu politik 2018-2019 dan pergerakan mahasiswa menjadi bahasan dalam silaturahmi yang dihadiri 40 BEM PTAI se-Jawa Barat di Kampus Universitas Islam Nusantara (Uninus) Bandung. Kegiatan ini dipicu kesadaran dan kebutuhan BEM untuk membahas keorganisasian.