Kisah Jatuh Bangun Pengusaha Daur Ulang Barang Bekas

  • Whatsapp
Pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM)
Pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang bergelut dibidang daur ulang, Etis Surtisah (62) saat memperlihatkan produk daur ulangnya.

SOREANG – Usia lanjut tak menghentikan Etis Surtisah (62) untuk menjalankan usaha. Dari tangannya, limbah bisa diolah menjadi berbagai macam produk daur ulang.

Namun sayangnya, pandemi Covid-19 membuat usaha daur ulang tersebut kehilangan pasar hingga kekurangan modal.

Bacaan Lainnya

Etis mengatakan sudah melakoni bisnis daur ulang sejak tahun 2014. Berawal dari hobi membuat baby set dan pakaian boneka dengan cara merajut benang, Etis mengaku ketagihan untuk membuat produk daur ulang lainnya, dengan berbagai macam bahan, seperti kantong plastik, bungkus makanan ringan dan koran.

“Tadinya dari benang, akhirnya lari ke kresek untuk dirajut, setelah itu saya juga bikin dari bungkus kopi, koran, sedotan” ujar Etis saat dihubungi Radar Bandung, Minggu (26/9).

“Bahannya dari tetangga, daripada dibakar diberikan ke saya, dapat dari teman-teman juga,” sambungnya.

Etis yang sudah menginjak usia 62 tahun itu bisa membuat berbagai macam produk dengan bahan yang berasal dari limbah tersebut, seperti payung, dompet koin, gantungan kunci hingga tas.

Harganya Rp5.000 sampai Rp7.500 per pieces dan harga tas mulai dari Rp100 ribu sampai Rp600 ribu.

Selama hampir 7 tahun menjalankan bisnis, kata Etis, pandemi Covid 19 memberikan dampak yang luar biasa. Selain mengalami kekurangan modal, Etis juga mengaku kesulitan dalam memasarkan produknya.

Hingga pada akhirnya, Etis terpaksa memberhentikan 3 karyawannya karena tidak sanggup membayar gaji. Bahkan sekarang produknya dikembalikan oleh Dewan Kerajinan Jabar dengan alasan sedang dilakukan proses renovasi.

“Tapi sekarang enggak begitu laku, terus enggak ada pemasarannya, jadi ya numpuk aja di gudang, malahan saya ada rencana buat kursi dari botol tapi terbentur modal,” tutur Etis.

Sebelum pandemi Covid 19, Etis biasanya mendapatkan pesanan dari Jakarta dan pesanan membuat souvenir untuk acara pernikahan.

Kata Etis, dalam kondisi normal omzet per bulan bisa mencapai Rp2 juta sampai Rp5 juta. Namun saat ini, hanya bisa menjual satu hingga dua buah gantungan kunci saja.

Etis mengungkapkan, meski hidup sendiri dan saat ini sedang ada pandemi Covid-19 namun hidup harus terus berjalan. Sehingga, karena saat ini bisnis daur ulangnya sedang terkendala ia juga membuat makanan peyek dan konektor masker.

“Saya bikin strap masker itu dari benang dan saya jualan peyek untuk bertahan hidup, dijual lewat online,” ungkapnya.

Etis berharap produknya bisa dipamerkan di kantor Pemerintahan Kabupaten Bandung. “Semoga kerajinan daur ulang saya bisa berkembang lagi seperti dulu dan tidak dipandang sebelah mata,” pungkasnya. (fik)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *