Berdasar pengakuannya, gempa begitu besar sehingga ikut mengguncang tenda, dan mengakibatkan beberapa bangunan mengalami kerusakan.
Setelah guncangan berhenti, acara dilanjutkan langsung ke ijab kabul pernikahan, padahal jika mengikuti agenda, kegiatan seharusnya diisi oleh acara penyerahan pengantin laki-laki (seserahan) dan barang hantaran kepada keluarga pengantin perempuan.
“Biasanya dua acara itu dilakukan sebelum ijab kabul. Namun karena kejadian gempa itu, maka acara seserahan ditiadakan dan dipintas langsung ke ijab kabul pernikahan. Tapi yang penting bisa selesai,” ucap Mulki.
Cerita menegangkan juga datang dari Hilda Q Ayuni (20) yang merupakan seorang karyawan Permodalan Nasional Madani (PNM) di Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung.
Hilda menceritakan ketika goncangan cukup besar itu terjadi, dirinya sedang berkunjung dan berada di rumah nasabah di Desa Cibereum, Kecamatan Kertasari, untuk menjalani tugasnya sehari-hari dalam rangka penagihan untuk PNM.
Dia menceritakan saat terjadi gempa besar itu, dirinya lari dan nasabah berlari ke luar rumah, dan rumah-rumah di sekitar turut bergoyang dengan genting-genting di atap rumah yang turut berjatuhan.
“Kepala saya pun tertimpa genting, namun untungnya hanya luka goresan dan tidak terlalu parah, meski ia mengaku sempat shock,” tutur gadis yang akrab disapa Imey itu.
Getaran itu diakuinya hanya berlangsung 3-5 detik, namun dampaknya sangat signifikan. Setelah di lokasi aman dengan memegang kepala yang terkena genting, ia menyaksikan sejumlah rumah di sana rusak berat dengan genting-gentingnya berjatuhan, dinding-dinding tembok terkelupas, rubuh, kemudian ada juga yang miring, bahkan ambruk.
Kebetulan rumah tinggalnya berjarak sekitar tujuh 10 kilometer dari lokasi gempa itu, setelah memastikan rumah tinggal tidak ada kerusakan iapun lega.
Setelah kejadian itu, ia memilih untuk kembali ke kantornya dan mengurungkan kegiatannya siang itu. Ia juga tak lupa memotret beberapa rumah yang rusak akibat kejadian itu.
BPBD Jabar mencatat, akibat lindu yang menggoncang Bandung Raya dalam jangka waktu beberapa detik ini, sedikitnya 657 rumah, lima faskes, 17 sarana pendidikan, 35 tempat ibadah dan 20 fasilitas umum di 29 desa pada delapan kecamatan Kabupaten Bandung mengalami kerusakan.




