Keberadaan sampah plastik berpengaruh besar terhadap lingkungan. Plastik yang masuk laut lama-lama akan mengecil hingga menjadi mikroplastik. Mikroplastik itulah yang dimakan ikan. Lalu, ikan itu dimakan manusia. Padahal, ikan tersebut bisa menjadi pemicu kanker. ”Sudah ada penelitian yang menyatakan bahwa ikan di Jakarta mengandung mikroplastik,” ungkapnya. Sampah plastik juga bisa mencemari terumbu karang. Menurut dia, terumbu karang yang tertutup plastik selama empat hari akan mati.
Swietenia menjelaskan, bukan hanya Kepulauan Seribu yang dililit permasalahan sampah. Kondisi serupa terjadi di Kepulauan Anambas. Di sana sampah juga bisa ditemukan di mana-mana. Dia juga menyebut beberapa pulau di Kalimantan Utara. Menurut Swietenia, sebagian warga terbiasa membuang sampah di bawah rumah.
Relawan yang memiliki visi sama dengan Swietenia saat ini sudah mencapai 1.500 orang se-Indonesia. Salah satu volunter itu bernama Dorothea Gecella Putri Lestari. Dia menceritakan kegiatan volunter. Antara lain underwater dan beach clean-up. Underwater clean-up meliputi snorkeling dan diving sambil memungut sampah-sampah yang ditemui.
”Kalau beach clean-up kegiatannya di sepanjang pantai,” ujarnya. Sampah yang dipungut lantas dijadikan sampling penelitian untuk memetakan persebaran sampah. Selain itu, untuk lebih mengampanyekan kebersihan lingkungan, diadakan kegiatan lain seperti talk show dan youth summit. Tujuannya ialah mengajak generasi muda bergerak melawan penggunaan plastik.
(*/c9/oni)






