cangseng Satomah. Tapi, dia juga mengkritik pengemasannya. Saat itu Satomah hanya mengemas cangseng dalam stoples.Akhirnya Satomah memperbaiki kemasan dan menggunakan label.Produknya pun dikenal di sejumlah daerah. Permintaan dari daerah lain cukup tinggi. Misalnya, Jakarta, Samarinda, Bandar Lampung, Batam, dan Singapura.
Dalam sehari, UKM Satomah bisa memproduksi 28 kg–30 kg cangseng. Hasil gorengan dipilah menjadi dua. Cangseng yangbagus dan kurang bagus. Berkat olahan cangseng Satomah, kini banyak warga yang mengikuti jejaknya. Inovasi itu tidak hanya berbuah manis untuk ekonomi keluarganya, tapi juga dirasakan tetangga dan warga lain.
(*/c7/ano)



