Featured

Satomah, Pelopor Camilan Kacang Sengon di Made

×

Satomah, Pelopor Camilan Kacang Sengon di Made

Sebarkan artikel ini

Namun, belum sempat ibu dua anak tersebut bertanya lebih lanjut, pria itu sudah pergi. Penasaran, perempuan 49 tahun tersebut memunguti buah sengon sepulang berkebun. Dia ingin membuktikan benar tidak sengon bisa dimakan. Awalnya dia menggoreng buah itu dengan pasir, tapi gagal. ’’Kok nggak meletus,” kenangnya.

Setelah itu, dia menggorengnya lagi di wajan tanpa minyak dan kembali gagal. Hasilnya kurang bagus dan tidak layak dimakan. Kemudian, Satomah mencoba lagi dengan menggunakan minyak goreng. Barulah biji sengon meletus bagaikan popcorn atau berondong.

Bank bjb Tandamata

Percikan minyak dan biji sengon yang beterbangan membuat muka dan tangannya kepanasan dan meninggalkan bekas luka.Tak putus asa, dia melihat helm full face di sampingnya. Lantas, dia mengenakan helm itu saat menggoreng sengon. Tentu saja, tujuannya melindungi wajah dari cipratan minyak dan sengon yang meletus.

Tidak sia-sia. Setelah sengon matang, dia mencoba racikannya. Ternyata, rasanya enak dan gurih. Satomah makin rajin mengolah sengon. Awalnya dia membuat cangseng hanya untuk camilan. Tapi, kebutuhan ekonomi mendesaknya.Sebab, suaminya merantau ke Papua dan pendapatan dari berkebun sangat mepet untuk menutup kebutuhan rumah tangga. Satomah pun memutuskan menjual cangseng ke warung-warung terdekat.

Banyak yang meragukan cangseng olahan Satomah, terutama tetangga-tetangganya. Tapi, ternyata cangsengnya laku keras. Dia pun mengembangkan bisnis dan menggenjot produksi. Karena itu, suaminya yang merantau diminta pulang untuk membantunya.

Setelah Satomah bergabung dengan komunitas Pahlawan Ekonomi Sambikerep pada 2011, bisnis cangseng olahannya makinberkembang. Dia kerap mengikuti bazar dan pameran di mana-mana. Pada 2016 Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini memuji