Dari situ, dirinya mulai berfikir untuk mengembangkan kepiawaiannya dalam meracik bumbu menjadi sebuah ladang usaha. Namun, karena terpentok modal, Yuli pun kembali ragu untuk memulai usahanya itu.
“Sempat ragu karena bingung modal dari mana, akhirnya dikasih tuh modal Rp200 ribu dari saudara itu untuk mulai usaha,” ucapnya.Dari modal Rp200 ribu, sambal lotek kemasan dibuat. Saat itu masih menggunakan plastik mika untuk membungkusnya.
Soal pemasaran, diserahkan kepada saudaranya. Dari penjualan pertama, hasilnya laris manis bahkan permintaan terus bertambah, tidak hanya di Bogor tetapi juga dari kota-kota besar seperti Jakarta. Di tangan Yuli, produknya bisa dinikmati penggila sambal dari segala usia. Sebab sambalnya bisa dibuat sesuai pesanan konsumen.
“Bikinnya sesuai permintaan konsumen, misalnya mau pedes baget tinggal tambahin banyak cabai atau ada juga yang pengen gak pedes,” imbuhnya.Saat ini, produknya mulai ia pasarkan melalui media sosial seperti Facebook dan Instagram. Bahkan sambal lotek yang di brand Nienie Traditional Foods itu juga sudah dijual di Bukalapak dan Tokopedia.
Tidak hanya di Jabodetabek, produk tersebut sudah mulai dipasarkan ke luar negeri seperti Korea dan Abu Dhabi.”Kalau Korea udah empat kali kirim ke sana,”ucapnya.
Tidak lagi menggunakan plastik mika, kini sambal lotek instan Nienie Tradisional Foods memiliki kemasan baru yaitu kemasan botol isi 400 gram dibanderol dengan harga Rp35 ribu dan kemasan plastik isi 250 gram dengan harga Rp17.500.Dari hasil penjualan, setiap bulannya ia mampu meraup omzet hingga jutaan rupiah.



