Featured

Ritual Pemuja Setan atau Festival Budaya Pemicu Gempa dan Tsunami ??

×

Ritual Pemuja Setan atau Festival Budaya Pemicu Gempa dan Tsunami ??

Sebarkan artikel ini

Bahkan konon ratusan peserta Paralayang dari berbagai negara sudah berdatangan dan menginap di Hotel Roa-roa. Salah satu hotel yang luluhlantak akibat gempa 7,7 SR akhir September lalu.

Namun yang paling disorot dari Palu Nomoni adalah ritual adat Balia.

Bank bjb Tandamata

Belakangan, pasca-gempa ritual Balia ini yang memicu kemarahan warga karena dianggap sebagai ritual memuja setan atau jin.

Beberapa hari setelah gempa terjadi di sudut-sudut Kota Palu banyak aksi vandalisme yang menyebut walikota Palu melakukan penyembahan terhadap setan, sehingga menyebabkan bencana alam di Sulteng.

Namun Walikota Palu, Hidayat membantah isu tersebut. Menurutnya, tidak ada ritual pemujaan setan di acara Palu Nomoni.

FPPN hanya diisi pertunjukan seni yang dipadu dengan kebudayaan Sulawesi. Hal itu lazim dilakukan di sejumlah wilayah di Indonesia.

“Saya kira semua daerah punya ritual-rituan kan. Sebenarnya ini bukan ritual lagi, tetapi ini pertunjukan semacam seni budaya, sebenarnya begitu,” ucap Hidayat dalam jumpa pers di rumah dinas Wakil Wali Kota Palu, Sigit Purnomo Said alias Pasha Ungu di Palu, Sulteng, Rabu (10/10).

Adapun ritual Balia yang ditampilkan dalam FPPN tersebut merupakan upacara adat yang dikemas dalam pertunjukan. Tidak ada unsur pemujaan setan.

“Kalau kita mau melakukan ritual kita bikin Balia itu empat hari empat malam. Tetapi ini yang kita tampilkan adalah seni pertunjukan,” ujarnya.

Salah seorang tokoh adat Palu yang ditemui Pojoksatu.id, Bahtiar mengatakan memang ada kekeliruan dalam konsep acara Palu Nomoni yang digelar Pemkot Palu dengan masuknya ritual Balia.

Bahtiar mengakui nenek moyang Suku Kaili (warga asli Palu) memang mengenal ritual Balia. Tapi pelaksanaannya tidak dilakukan dalam suasana keramaian.

“Itu ritual nenek moyang Suku Kaili untuk penyembuhan orang yang sudah lama sekali menderita penyakit. Dan dilakukan di tempat sunyi, bukan di tempat terbuka yang ramai seperti di anjungan itu,” jelasnya.

Menurutnya, jika Pemkot Palu ingin mempromosikan kearifan lokal atau budaya Suku Kaili ke tingkat nasional bahkan mancanegara.

Maka seharusnya acara adat seperti tarian Pomonte, Adat Peduta (pesta pernikahan) atau Movunja (pesta panen).

“Saya kira acara-acara adat seperti itu lebih cocok dipromosikan dan bisa mengangkat pariwisata Palu. Tapi kalau Balia, konsepnya sangat bertentangan dengan kebiasaan leluhur kami,” kata Bahtiar.