Featured

Potret Kemiskinan di Kabupaten Sukabumi

×

Potret Kemiskinan di Kabupaten Sukabumi

Sebarkan artikel ini

“Ya disyukuri saja, bagaimanapun ini harus saya jalani. Saya harus lanjutkan perjuangan almarhum suami untuk membesarkan keempat anak saya. Alhamdulillah sekarang sudah besar. Dua orang sudah bekerja di luar kota, sementara dua orang lagi menemani saya di sini,” akunya.

Saat ditanya penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Pupun nampak memperlihatkan wajah bingung penuh melas. Itu karena, penghasilannya selama ini tidak menentu. Pekerjaan serabutan dan cuci baju yang dilakoninya selama ini, hanya pas-pasan untuk makan. “Ya cukuplah untuk makan,” bebernya.

Bank bjb Tandamata

Bila hujan deras, perasaan Pupun semakin memprihatinkan. Karena, ia harus memberanikan diri untuk ikut berteduh ke rumah tetangganya. Hal itu supaya, ia bisa istirahat tanpa gangguan gemiricik hujan. “Kalau saya memaksakan tinggal di sini saat hujan, tak ada tempat lagi untuk berteduh. Atap rumah bolong dan air hujan masuk. Banjir,” keluhnya.

Karena keterbatasan ekonomi, Pupuh pun tidak mampu memasang listrik untuk penerangan rumahnya. Otomatis, kondisi rumah pun gelap gulita bila malam hari. “Jangankan untuk biaya listrik, makan sehari-hari saja sudah kesulitan. Jadi saya menggunakan lilin kalau malam hari,” imbuhnya.

Meskipun saat ini banyak program pemerintah, namun Pupuh mengaku belum pernah mendapatkan bantuan untuk perbaikan rumah. “Saya harap, pemerintah bisa bantu memperbaiki rumah ini. Karena saya khawatir kalau malam hari apalagi hujan, rumah ini tiba-tiba ambruk,” pungkasnya.

 

(*/t)