Tidak lama kemudian, Nanik bangkit. Ketika kelas II, dia mengumpulkan hasil karya bunga dari kertas. Jenisnya mawar. Guru langsung melirik bunga tersebut dan menunjukkannya ke seisi ruangan bahwa hasil itu terbaik. Semangat Nanik pun membara untuk terus berkarya.
Dua tahun kemudian, dia memberanikan diri untuk membordir kain. Secara otodidak, Nanik hanya melihat tetangganya membordir, lalu mempraktikkannya. Hasilnya diperjualbelikan. ”Masih kecil, sekitar kelas IV-VI SD,” paparnya.
Sejak saat itu jiwa keterampilan dan kewirausahaan tumbuh dalam diri Nanik. Ketika kuliah, dia membuat kartu Lebaran dalam bentuk boneka jepang yang terbuat dari kertas. Lalu, kartu itu diwarnai dengan menggunakan cat air. Setelah lulus, dia menjadi guru, tepatnya pada 1993.
Inovasi Aksritex muncul dari adanya kurikulum seni tekstil yang harus diajarkan kepada siswa. Awalnya, mereka membuat tulisan di spanduk dengan menggunakan cat kain pada umumnya.
Menurut dia, hal itu tidak awet. Kemasannya yang berbentuk seperti pasta gigi ketika ditutup sering tidak rapat sehingga cepat padat. ”Hari ini beli, minggu depan sudah keras tidak bisa dipakai,” katanya.
Selanjutnya, anak-anak sering membuat warna baru. Nah, modalnya harus cat putih. Di pasar, pembelian khusus warna putih tidak ada, harus satu set. Karena itu, Nanik sedikit mengeluhkan modal pembelajaran yang begitu besar. Dia lantas mengolah cat sendiri.



