Memasuki milenium baru, Paman Dolit memang jarang wira-wiri di televisi. Tapi, tidak berarti dia berhenti berkarya. Dia hanya pindah platform. Lewat YouTube. Melalui kanal Paman Dolit Official. Konten dan konsep videonya masih seputar dunia anak-anak. Tak sekadar menghibur.
Tapi, juga edukatif. Dengan tidak meninggalkan unsur humor. Misalnya, video berjudul Paman Dolit Mengenal Huruf B. ”Hayooo, binatang apa yang namanya dimulai dengan huruf B? Mikir yang lama, empat hari atau tiga hari,” kata Paman Dolit dalam video tersebut.
Syafi remaja pernah memiliki band beraliran rock bernama Hanoman Grassrock. Personelnya digawangi para pelajar SMA N 2 Surabaya. ”Terus Memed (sapaan akrab Syafi, Red) sempat punya band juga dengan anak-anak ITS. Namanya Karikatur,” kata Dhani yang sama-sama memulai karir di dunia hiburan bersama Syafi sejak di Surabaya itu.
Baru pada 1983 Dhani dan Syafi membentuk grup dr. Dolittle. Maestro gitar Indonesia, Dewa Budjana, juga mengawali karir musiknya dari kelompok musik asal Kota Pahlawan itu. Pelan tapi pasti nama dr. Dolittle kian melambung. Mereka juga mengajak kolaborasi bersama musisi ternama zaman itu. Di antaranya, Gombloh, Titiek Puspa, dan sejumlah penyanyi cilik.
Bagi Syafi dan Dhani, dr. Dolittle bukan hanya sebuah grup band. Mereka turut menggandeng anak-anak muda lokal Surabaya untuk berkreasi di dalamnya. Karena itulah, setiap kali naik pentas, mereka tidak hanya menampilkan lagu. Tapi, juga drama teatrikal dan tarian yang menyampaikan sebuah cerita sarat makna pendidikan anak.
Ramai memang. Karena itu, Dhani lebih senang menyebut grupnya tersebut sebagai sebuah sanggar budaya. ”Makanya, kita namakan dr. Dolittle Lab. Laboratorium yang mengajarkan tentang bentuk, gerak, dan musik,” terang Dhani.




