Kerajinan sepatu dipilih karena sudah banyak varian kerajinan dari eceng gondok kering. Seperti tas, kursi, meja, dan lain sebagainya. “Nah, kami coba yang belum ada, yakni sepatu. Kami juga sepakat menggunakan brand Enchoes, singkatan dari eceng gondok shoes,” katanya.
Sepatu dari eceng gondok ini memiliki ornamen batik pada beberapa bagiannya. Desain terbaru yang sedang dipersiapkan akan lebih memperbanyak kesan batiknya. Untuk pengerjaan satu sepatu, butuh sekitar 5-7 hari, tergantung tingkat kerumitan. Karena itu, sementara ini, pihaknya belum berani menjualnya dalam partai besar.
“Jadi, sistem kami pre-order, dibuka setiap minggu setelah kami tutup PO langsung produksi berdasarkan pesanan. Minggu kemarin kami memproduksi 36 pasang sepatu. Ke depannya kami masih akan menambah model baru lagi sebagai pilihan,” bebernya.
Ditanya mengenai modal, mereka memanfaatkan penyelenggara kompetisi bisnis Yayasan Prestasi Junior Indonesia yang menggelontorkan dana sebesar Rp 1 juta. Karena itu, dia juga berharap produknya bisa memenangi perlombaan yang mewakili SMAN 3 Semarang di kancah regional.
Echoes juga memanfaatkan Instagram @sagasco.sc sebagai sarana promosi. Selain menampilkan produk, di sana juga sudah ada informasi terkait harga dan cara pemesanan. Sepasang sepatu ramah lingkungan ini dijual seharga Rp 180 ribu. “Kami punya tagline “Step On It”. Harapannya, produk Echoes dari Sagasco.sc siap menemani berkegiatan sehari-hari,” timpal Wakil Presiden Humas Sagasco.sc, Aditya Manggala.



