Kisah Syam Permana, Pencipta Lagu Dangdut dari Sukabumi, Dinyanyikan Artis Ternama, Kini Hanya Kerja Serabutan

  • Whatsapp
Sang pencipta lagu Syam Permana asal Kampung Babakan Jawa, RT 42/18 Desa Sukaresmi, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi kini kehidupannya tak seindah lagu ciptaannya.

RADARSUKABUMI.com – Bagi para pecinta musik dangdut, tentu tak asing dengan nama-nama beken seperti Jhonny Iskandar, Ine Sinthya, Mirnawati, Imam S Arifin, Ona Sutra, mendiang Meggy Z hingga Inul Daratista. Tapi siapa sangka, ternyata deretan artis kenamaan Indonesia ini beberapa lagunya diciptakan oleh pria asal Sukabumi, Syam Permana (58).

LUPI FAJAR HERMAWAN, Sukabumi

Bacaan Lainnya

Siang itu matahari cukup terik. Tapi, aktivitas masyarakat tetap berjalan seperti biasanya. Tak terkecuali yang dilakukan pria asal Kampung Babakan Jawa, RT 42/18 Desa Sukaresmi, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi, Syam Permana. Meskipun pekerjaannya tak menentu, dirinya tetap bekerja keras demi menghidupi keluarganya.

Tapi siapa sangka, ternyata dulunya ia merupakan seorang pencipta lagu handal. Lagu ciptaanya begitu populer di era 80-an hingga 90-an. Bahkan sampai saat ini, mungkin masih banyak orang yang mendengarkan buah karyanya.

Lagu-lagunya mulai dari “Memori Pantai Carita” yang dipopulerkan Jhonny Iskandar, “Seandainya” yang dinyanyikan Dewi Purwati, “Surga Jadi Neraka” yang dinyanyikan pedangdut Ine Sinthya, “Kau Milik Siapa” yang dinyanyikan Indah Sundari dan banyak lagu lainnya.

Sang pencipta lagu Syam Permana asal Kampung Babakan Jawa, RT 42/18 Desa Sukaresmi, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi kini kehidupannya tak seindah lagu ciptaannya.

Syam Permana menceritakan awal mula dirinya menjadi pencipta lagu. Saat itu, dirinya masih tinggal di Ibu Kota sekitar tahun 1980-an dan usianya masih sekitar 22 tahun. “Saat itu masih tinggal di Jakarta, sambil mencari pekerjaan, dan mengisi waktu luang. Karena suka mendengarkan lagu dangdut, saya coba membuat lirik dan lagunya,” ungkapnya ketika Radar Sukabumi menemuiny dikediamannya.

Pertama kali lagu cipataannya, dibeli Lulu Ervan seorang penyanyi dangdut. Saat itu lagu itu dihargaiRp 25 ribu. Tidak lama kemudian, hasil harga karyanya mulai naik diangka Rp 50 ribu per lagu, ketika dibeli soerang personil dari kelompok musik Orkes Melayu Tralala pada tahun 1985-an.

“Sering berpindah-pindah rumah, karena biaya hasil penjualan lagu cuma cukup untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari dan biaya kontraakan rumah saja. Sekitar tahun 1984 hingga 1985, saya bersama keluarga tinggal di Cengkareng, Ancol, hingga Pondok Gede,” cerita Syam.

Memasuki awal tahun 1990-an, hasil karya pemikirannya mulai dilirik beberapa artis ternama seperti, Imam S. Arifin, Ida Laela, Muckhin, Mega Mustika, Indah Sundary, Ana Sajaya dan Mely Agustina serta beberapa artis ternama lainya. “Kalau lagu yang dinyanyikan Imam S. Arifin yaitu “Benalu Cinta”, “Bagaimana Bisa” dihargai sebesar Rp 200 ribu per lagu,” sebut pria yang memiliki enam orang anak ini.

Setelah krisis moneter melanda Indonesia, Syam dan keluarganya memutuskan untuk pindah ke Sukabumi. Meskipun sudah pindah, tapi ia masih menulis beberapa lirik lagu. Bahkan dari beberapa ciptaanya itu di awal tahun 2000-an, karyanya tersebut diminati oleh Inul Daratisna denga judul lagu Terimakasih.

“Terakhir lagu ciptaan saya itu diminati Inul Daratisna, dan itu hasil kerja sama dengan Youngky RM. Saat itu lagu tersebut dihargain sebesar Rp 500 ribu, dan hasil penjualnya pun dibagi dua sama Youngky RM,” tandas Syam seraya tertawa karena teringat perjunganya waktu itu.

Kini, jalan hidupnya tak seindah lagu yang diciptakannya. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Syam bekerja serabutan. Bahkan, rumah warisan milik mertuanya yang kini ia tempati dalam kondisi rusak dan butuh perbaikan.

“Untuk kebutuhan hidup sehari-hari, saya kerja serabutan, itu juga kalau ada yang menyuruh. Jadi kuli bangunan, tani, kadang juga ngumpulin barang bekas untuk dijual,” ujarnya. Syam berharap karya-karyanya bisa dihargai dan ia mendapatkan haknya kembali.(*)

loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *