Siang itu, Selasa (27/2) di hari yang cerah terlihat sedikitnya ada sepuluh orang sedang duduk. Mereka sibuk bermain handphone-nya masing-masing. Namun bukan sibuk bermain handpone pada umunya, tapi para kaum tunanetra itu sedang belajar menggunakan media online untuk berbisnis.
Meski mata mereka tidak menatap ke layar Hp, mereka serius mendengarkan suara yang keluar dari alat komunikasi tersebut melalui earphone atau dengan mengeraskan volume speaker. Tidak sedikit pula, ada dari mereka yang menggunakan laptopnya.
Dari handphone masing-masing memang mengeluarkan suara seperti orang yang sedang membaca tulisan, dengan tempo cepat. Logatnya pun lebih mirip bahasa Inggris. Namun demikian, mereka tidak mengalami kesulitan berarti mengikuti suara tersebut. Perangkat lunak itulah yang memandu mereka menjalankan laptop dengan mengeluarkan suara dari semua tulisan yang berada di layar laptop.
Para kaum tunanetra ini ternyata sedang menjalani pelatihan bisnis online, dibantu oleh salah satu pebisnis properti yang cukup terkenal di daerah Sukabumi.”Sebenarnya untuk berjualan dari anggota kami sudah ada beberapa seperti jualan ice cream keliling, tetapi kebanyakan mereka berjualan offline, nah karena sekarang ada bantuan dari salah satu pebisnis properti untuk ikut gabung berjualan melalui media online,” kata Syafei kepada Radar Sukabumi.
Para penyandang tunanetra ini berjualan online, mulai dari bisnis katering, aqiqah dan barang properti. Prosesnya, biasanya mereka akan mendapat kiriman gambar atau barang yang nantinya akan dijual oleh operator dari tim Rumah Q-ta yang kemudian dilanjut untuk di share kembali ke Facebook masing-masing.
“Ini baru berjalan satu bulan, Alhamdulilah sih lumayan banyak mendapatkan hasil,” ucapnya.
Bisnis online semacam ini patut dicoba kepada para tunanetra. Tujuannya, agar mereka tidak terjebak pada tiga pekerjaan yang selama ini identik dengan para tunanetra, yaitu tukang pijat, musisi dan pengajar. Apalagi teknologi informasi sudah demikian terbuka untuk para tunanetra.
“Dengan adanya program Jaws ini kami harap, kedepannya pelatihan bisnis online bisa memberdayakan para kaum tunanetra lainnya untuk terus bisa berkarya,”uraiunya. (*)



