Featured

Cerita di Balik Panggung Festival Gandrung Sewu Banyuwangi

×

Cerita di Balik Panggung Festival Gandrung Sewu Banyuwangi

Sebarkan artikel ini

Tahun ini Kang Jul dan Suko Priyatno, koordinator pertunjukan Festival Gandrung Sewu, merekrut lebih banyak pelatih muda sebagai wujud regenerasi. ”Kadung hang enom ngajeni mestine hang tuwek kudu gelem ngelilani,” ujar Kang Jul dalam bahasa Osing. Artinya: jika kaum muda bisa menghormati, pastinya para sesepuh akan bisa memercayakan.

Karena itu, banyak pelatih tari maupun panjak alias pemusik yang diisi anak muda. Generasi muda Banyuwangi yang mau kembali membantu mengembangkan kesenian daerah mereka.

Bank bjb Tandamata

Kiprah Adlin Mustika Alam misalnya. Cowok yang kini mengenyam pendidikan di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) tersebut dipercaya melatih para panjak. ”Saya sudah tiga kali ikut. Tapi tahun ini naik pangkat,” katanya.

Sebagai asisten penata musik, Adlin harus mampu membuat gandrung dan musik menyatu. ”Penari dan musik yang dihasilkan panjak harus satu roh,” tuturnya.

Adlin berlatih dalam kelompok-kelompok kecil, sesuai dengan fragmen yang dibawakan. Namun, dalam Festival Gandrung Sewu, penari dan panjak harus menjiwai satu sama lain. ”Di sini kami nggak main ketukan atau notasi. Tapi melodi kendang, rebana, saron, dan alat-alat musik lain,” terangnya.

 

(*/c9/oni)