Featured

Cerita di Balik Panggung Festival Gandrung Sewu Banyuwangi

×

Cerita di Balik Panggung Festival Gandrung Sewu Banyuwangi

Sebarkan artikel ini

Cerita baru dalam festival, gerakan anyar, sampai pergantian busana selalu dialaminya. Tiap tahun ada tantangan berbeda. Tapi, tahun ini berat. Indi nyaris tidak ikut berpartisipasi. ”Bolak-balik demam sebelum seleksi, sampai 39 derajat Celsius,” katanya.

Sang ibunda Iin Tulusiyanti sempat khawatir. ”Saya ketir-ketir. Soalnya, menari di festival ini nggak bisa main-main. Fisiknya harus kuat,” ucapnya. Durasi tarian sepanjang 42 menit, ditambah cuaca khas Pantai Boom yang panas dan berdebu, menjadi rintangan besar jika stamina kurang fit.

Bank bjb Tandamata

Tapi, Indi tak mau menyia-nyiakan tahun terakhir ini. Tahun depan tak lagi ada kesempatan merasakan kebanggaan menari gandrung secara kolosal. Ditonton tamu-tamu penting sekelas Menteri Pariwisata Arif Yahya. ”Lawan sakitnya dengan tekad. Sudah muntah-muntah, tapi kalau dengar gendingnya gandrung ya langsung pengin nari,” ungkap Indi, lalu terbahak-bahak.

Festival Gandrung Sewu memang dianggap spesial bagi masyarakat Banyuwangi. Bagaimana tidak? Setiap fragmen yang dibawakan selalu membawa tokoh agung yang mereka cintai. Dalam kesempatan sore itu, kisah bertajuk Layar Kumendhung dipersembahkan. Cerita tentang perjuangan tiga pangeran Tanah Blambangan melawan penjajah Belanda.

Serta tragedi meninggalnya Mas Alit, bupati kawitan Banyuwangi 1774. Tentu proses latihan tak bisa main-main. ”Setiap penari harus tahu arti dari tiap lirik dalam syair. Alurnya. Sejarahnya. Makna sosiologisnya,” tutur Jajulaidik, salah seorang anggota tim produksi Festival Gandrung Sewu.

Jajulaidik dan sepuluh pelatih utama mengambil budaya gethok tular. ”Kami melatih dulu penari senior. Dimatangkan. Nanti mereka melatih lagi di setiap zona,” papar pria yang akrab disapa Kang Jul itu.