Kegigihan Dina patut diacungi jempol. Pasalnya, tidak sedikit teman Dina yang menyerah saat latihan di hari-hari menjelang seleksi. ”Latihannya itu sampai malam. Tapi, nilai sekolah harus tetap bagus, jadi teman-teman capek,” ungkapnya.
Semangat Dina mengalir dari ayahnya, Budiono, yang terus mendukungnya. Pria paro baya itu terus menemani Dina. Dia terlihat sama bahagia dengan Dina. ”Senang sekali akhirnya lolos,” ungkap Budiono semringah. ”Deg-degan sekali waktu dinilai langsung sama tim produksi yang sudah berpengalaman,” imbuhnya.
Dina sebenarnya sempat goyah. Dia tak percaya diri bakal lolos. Namun, Budiono senantiasa memotivasi putri semata wayangnya itu. Bahwa gandrung sejatinya bercerita soal perjuangan. ”Gandrung itu sejarahnya telik sandi. Kalau gampang menyerah, ya jangan harap jadi gandrung sejati,” tutur Budiono.
Bukan hanya Dina yang punya kisah sulitnya menaklukkan seleksi Gandrung Sewu. Indi Julia Ridhayul Khasanah punya pengalaman serupa. Gadis 16 tahun itu bahkan berkali-kali terserang demam selama proses menuju perhelatan akbar tersebut. ”Saya nggak mau absen. Ini tahun terakhir,” ucapnya tegas saat diwawancarai Jawa Pos selagi berswafoto dengan kawan-kawannya.
Menurut Indi, tari gandrung sudah menjadi identitasnya. Saat SD pada 2012, Indi terpilih dalam Festival Gandrung Sewu. Itulah kali pertama festival yang kini masuk dalam seratus event pariwisata nasional tersebut dihelat.
”Saya sudah ikut mulai Pak Sumitro (maestro karawitan sekaligus penggagas Festival Gandrung Sewu, Red) yang mengonsep. Jadi bagi saya sudah seperti ulang tahun, acara penting,” ungkap dara yang kini duduk di bangku kelas XI SMAN 1 Banyuwangi itu.



