Featured

Bertamu ke Rumah ”Muklis” dan ”Gundul” di Taman Nasional Tanjung Puting

Bisa bertemu orang utan dari jarak dekat adalah ”kemewahan” yang ditawarkan Taman Nasional Tanjung Puting. Pulangnya, di sisi kanan-kiri sungai, giliran bekantan yang memberikan hiburan.

FERLYNDA PUTRI, Kotawaringin Barat

KALAU nama Anda Muklis dan kebetulan sedang berkunjung ke Taman Nasional Tanjung Puting, jangan gampang geer. Nama Anda memang bakal berkali-kali disebut. Tapi, bukan karena Anda terkenal ya. Muklis di taman nasional yang terletak di Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, itu panggilan untuk seekor penghuni. Satu di antara 4 ribuan orang utan di sana.

Kami, rombongan wartawan Kementerian Perhubungan, bersirobok dengan Muklis pada Senin pekan lalu (8/10). Saat akan meninggalkan camp. Kira-kira 200 meter dari Dermaga Tanjung Harapan, tempat perahu kelotok kami bersandar. Muklis kelihatan bingung. Apalagi, saat dua puluhan anggota rombongan mengeluarkan kamera atau ponsel untuk memotret. Sambil berucap, ”Muklisss…,” lalu cekrek ketika yang dipanggil menoleh.

Tubuhnya yang besar tentu tak bisa tersamarkan oleh ranting kecil maupun daun-daun. Kami semakin mendekat. Berisik. ”Jangan berisik,” ucap salah seorang dari rombongan. Disusul dengan suara sssstttt yang muncul dari mulut beberapa orang lainnya.

Itulah ”kemewahan” berkunjung ke Taman Nasional Tanjung Puting. Bisa melihat orang utan atau bekantan di suaka alam yang menjadi rumah alami mereka. Dari jarak dekat. Tapi, ada syaratnya. Yang pertama, itu tadi, jangan berisik. Pemandu tur Juliandra Dede Mambat memang sebelumnya mengingatkan betul soal itu. ”Mereka itu tidak bisa ngomong. Ketika ada yang berisik, jadi merasa terganggu,” kata pria yang akrab disapa Dedek tersebut.

Selain tidak boleh berisik, larangan lainnya adalah jangan menatap terlalu lama. Tidak boleh juga mendongakkan kepala. Dua bahasa tubuh itu memberi tanda menantang bagi orang utan. Syarat lainnya, pengunjung harus menjaga jarak. Jangan coba-coba tidak mematuhi syarat-syarat tersebut. Itu berarti cari gara-gara. Situ mau tarung sama binatang yang bobotnya bisa mencapai 100 kilogram? Hehehe.

Untuk bisa sampai ke Tanjung Harapan, stasiun pertama rehabilitasi orang utan di Taman Nasional Tanjung Puting, bisa melalui Pelabuhan Kumai di Teluk Kumai. Jalan satu-satunya adalah dengan perahu atau boat. Sekitar 1,5 jam perjalanan masuk Sungai Sekonyer.

Nah, setelah bertemu Muklis, Surya atau akrab disapa Pak Eweng, pemandu tur kami lainnya, mengajak kami kembali berjalan. ”Muklis memang sering datang ke camp kalau lapar. Minta makan. Dia jinak,” katanya saat rombongan sudah memasuki hutan hujan tropis di wilayah tersebut.

Saat kami datang, jam masih menunjuk pukul 14.30 Wita. Waktu makan para orang utan pukul 16.00 Wita. Belum lama kami masuk hutan, hujan mulai turun. Pohon-pohon tak bisa menjadi payung. Baju pun basah. Tanah jadi liat dan licin. Rombongan otomatis harus berhati-hati.

Akhirnya gubuk yang cat birunya mulai pudar dan di beberapa bagian atapnya jebol menjadi tempat berteduh. ”Kalau musim hujan begini, jarang yang mau datang saat feeding (memberi makan, Red),” ucap Pak Eweng sambil mengusap-usapkan dua telapak tangan.

Mendengar pernyataan Pak Eweng, saya pun kecewa. Jauh-jauh ke Kalimantan Tengah, tapi belum tentu bisa jumpa dengan tuan rumah. ”Namun, kalau masih jodoh, bisa ketemu. Semoga saja,” imbuhnya.

Sekitar 30 menit setelahnya, kami melanjutkan perjalanan. Pak Eweng kembali berhenti. Dia mematahkan tumbuhan liar. Daunnya mirip daun bambu. Namun, batangnya kecil. Ketika dipatahkan, dalam batang ada semacam batang muda berwarna hijau. ”Ini namanya daun keting. Orang utan makan ini untuk mengobati kalau sakit perut,” katanya.

Melihat Pak Eweng makan, saya pun ikut mencoba. Rasanya seperti kencur. Agak pedas. Kami melanjutkan perjalanan. Kali ini yang memimpin Dedek. Sebab, tiba-tiba Pak Eweng ada urusan. Dedek melanjutkan perjalanan dengan memulai cerita bahwa dulu ada orang utan yang jatuh cinta kepada manusia.

Alkisah, seorang peneliti bernama Edy Hendras telah melakukan penelitian di Tanjung Puting pada 1980-an. ”Setelah beberapa waktu, dia pulang ke Jawa dan menikah. Lalu, kembali lagi ke Tanjung Puting bersama istrinya,” cerita Dedek.

Saat istri Edy bertemu dengan salah satu orang utan betina, primata tersebut langsung menyerang. Sampai akhirnya salah seorang ranger yang menemani memisahkan. ”Sejak saat itu, orang utan tersebut tidak pernah terlihat,” paparnya.

Cerita tersebut didapat Dedek dari buku panduan pemandu tur. ”Orang utan itu hewan yang paling mirip dengan manusia. Kalau tidak salah kemiripan DNA-nya sampai 90 persen,” ujarnya.
Rombongan semakin merangsek ke jantung hutan. Kami menuju tempat pemberian makan orang utan. Kata Dedek, jaraknya hanya 500 meter dari camp. Ah, tapi saya kira lebih. Napas mulai ngos-ngosan.

Pada hari itu bukan hanya rombongan kami yang akan menyaksikan pemberian makan orang utan. Ada beberapa rombongan lagi. Seluruhnya orang asing. ”Ada Gundul,” seru Dedek.

Langkah kami terhenti. Di depan kami, rombongan yang sudah datang dulu ada di bawah si Gundul. Orang utan yang diprediksi berusia 30 tahun itu bersantai di atas dahan. Tak ada raut wajah takut ataupun minder.

Si Gundul santai. Walau mata kamera membidik dan orang-orang berlomba foto dengan background dia. Gundul ini raja di Tanjung Harapan. Dia penguasa. ”Dia nunggu ranger,” kata bapak dua anak itu.

Memang jam masih menunjuk pukul 15.30. Masih setengah jam lagi waktunya makan. Dedek mulai bercerita lagi. Dia pernah digigit orang utan muda. Katanya, beruntung yang gigit bukan orang utan dewasa. Hanya meninggalkan bekas biru.

Menurut dia, orang utan tersebut menggigit lantaran tamu yang dibawa Dedek terlalu berisik. Orang utan itu seperti memberikan peringatan ke pemandu untuk memperingatkan tamu agar tidak mengganggu. ”Ooo… o.. o….” Dari kejauhan terdengar lolongan suara ranger.

Gundul langsung bersemangat. Apalagi, dari jalan setapak yang kami lalui, muncul tiga orang dengan keranjang di punggungnya. Gundul yang berada di atas dahan langsung menuju panggung tempat memberi makan. Tiga ranger menumpahkan isi keranjang. Ada mangga, pisang, dan buah-buahan lain. ”Ooo… o… o….” Kembali lolongan panggilan itu menggema.

Gundul duduk memunggungi penonton. Mungkin menyembunyikan dari mata kamera kalau dia makan banyak. Lima belas menit berlangsung, tak ada yang menyusul datang. Suara rangkong terdengar dari kejauhan. Tak ada suara dari penonton. Gundul masih asyik makan.

Saya menghampiri salah seorang ranger. Namanya Adrianus Oppo. Dia adalah staf Orangutan Foundation yang sudah empat tahun menjadi ranger. ”Ini musim hujan. Jadi, tidak banyak yang datang,” ucapnya ketika ditanya apakah akan ada yang datang lagi.

Adri lalu kembali memanggil orang utan. Namun, tak ada tanda-tanda pergerakan. Pukul 16.45 kami putuskan untuk kembali ke camp agar perjalanan pulang tetap terang. Sebab, kami juga ingin melihat bekantan yang katanya banyak berkumpul di tepian sungai saat sore.

Tak lama berselang setelah mulai berjalan pulang, suara krusuk-krusuk datang dari atas pohon. Seluruh orang lantas mendongak. Ada orang utan betina yang menggendong anaknya. Diikuti orang utan yang lebih kecil yang sepertinya juga anak si induk. Mereka menuju tempat makan. Tampak terburu-buru.

Orang utan yang lebih muda tampak grogi. Dia hampir jatuh. Beruntung, induknya memegang menggunakan kaki kanan. Mereka melanjutkan perjalanan tanpa sempat diam untuk berpose sebentar. Pulang meninggalkan Tanjung Harapan, pertunjukan tak berarti usai. Ian, nakhoda perahu kelotok, bercerita bahwa di rute pulang akan banyak pertunjukan.

Di sepanjang perjalanan, banyak bekantan dan kera ekor panjang di sisi sungai. Mereka tak terganggu dengan perahu kami yang berisik betul. Tak menyia-nyiakan kesempatan, foto si bekantan segera ada di kamera.

Sikap si monyet hidung besar itu seolah menunjukkan bahwa mereka juga pemeran dalam pertunjukan alam. Pemeran yang juga patut diabadikan. Meski mungkin namanya bukan Muklis…. (*/c10/ttg)

Tags
loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button