Featured

Angga Arief S, Seniman Pappercut dari Sempu

×

Angga Arief S, Seniman Pappercut dari Sempu

Sebarkan artikel ini

Saat itu, dia yang sudah diketahui memiliki keahlian dalam bidang desain dan cutting stiker dimintai untuk membuat bendera kematian. Tanpa pikir panjang, permintaan itu pun dia sanggupi. Setelah tugas tersebut selesai, dai justru tertarik dengan kertas sisa yang di gunakan untuk membuat sablon.

”Saya itu tertarik, ini namanya seni apa, kok bagus ya, lalu saya coba dan saya lihat di internet,” jelasnya.
Dari iseng-iseng itu, dia kemudian mencoba dengan membuat papercut dari foto keluarganya.

Bank bjb Tandamata

Lambat laun, keahlian ini dia pertajam dengan belajar melalui internet dan mencoba-coba kombinasi pola tertentu. Sehingga jika awalnya dia hanya melubangi bagian gambar, lambat laun dia membuat pola tersendiri.
Menariknya, semua proses melubangi kertas menggunakan cutter dia lakukan secara manual.

”Setelah saya desain menggunakan tiga software, lalu pengerjaannya manual,” ucapnya.
Dibutuhkan peralatan berupa pisau yang benar-benar tajam untuk membuat dan mengarsir pola gambar.

Dari kotak yang dia miliki, Jawa Pos Radar Banyuwangi melihat ada tiga jenis pisau cutter dengan model pegangan dan mata pisau berbeda. Masing-masing untuk membuat sayatan garis lurus dan berkelok. ”Ini sudutnya ketajaman besar, pegangannya juga beda,” jelasnya.

Untuk satu karya, paling cepat Angga membutuhkan waktu selama dua hari. Namun, jika model dan desainnya lebih kompleks, dia bahkan membutuhkan waktu sampai lima hari. ”Ini gambar Mamet Alasmalang saya butuh lima hari, kalau lainnya rata-rata dua hari,” ucapnya.

Karya yang dia hasilkan pun mulai dikenal orang saat dia unggah di Instagram miliknya, Sejumlah pemesan kemudian banyak berdatangan. Untuk melayani para pemesan ini, dia bisanya memerlukan kesepakatan terkait desain potongan kertas. Saat sudah sepakat, dia biasanya langsung mengerjakannya.

”Setelah dia kirim foto, saya buat lalu saya sampaikan, kalau setuju ya lanjut,” jelasnya.
Meski pesanan sudah datang dari sejumlah kota di Indonesia seperti Jakarta, Medan, Surabaya, dan Bali, bagi beberapa warga yang tidak mengerti nilai seni menganggap karya ini kurang bernilai karena hanya berupa kertas polos yang dilubangi.

”Ya pernah juga, Mas, ada yang bilang cuma kertas kok mahal,” ucapnya sembari tertawa.
Ke depan, Angga berobsesi memiliki kesempatan untuk menggelar pameran bersama para fotografer. Dia juga berharap foto yang dihasilkan oleh fotografer bisa berpadu keindahan dengan papercut karyanya dari foto yang sama. ”Semoga tercapai, pameran dengan fotografer. Jadi ada yang foto asli ada yang hasil karya saya, sepertinya menarik,” harapnya.(bw/sli/als/JPR)