Awalil juga menyoroti tidak dicantumkannya nilai pelunasan pokok utang yang jatuh tempo sepanjang 2026. Berdasarkan data yang tersedia, ia memperkirakan pemerintah harus membayar sekitar Rp900 triliun utang jatuh tempo tahun ini. “Dengan demikian, kebutuhan penarikan utang baru bruto akan mencapai kisaran Rp1.768 triliun,” katanya.
Per 31 Desember 2025, posisi utang pemerintah tercatat Rp9.638 triliun. Dengan outlook pembiayaan utang neto Rp868 triliun ditambah pelemahan kurs yang diperkirakan menambah hampir Rp100 triliun, posisi utang akhir 2026 diproyeksikan menembus Rp10.600 triliun. (*)



