Pemda, PLN dan PT.CYC Bareng-bareng Wujudkan Indonesia Bersih
Sukabumi, salah satu tujuan wisata terkenal di Jawa Barat (Jabar) kini menghadapi permasalahan pelik. Peningkatan volume sampah kian menjadi, tak lain gegara pertumbuhan penduduk dan pesatnya aktivitas pariwisata.
SRI SUMARNI, Sukabumi
Secara kewilayahan, tempat ini terbagi menjadi dua. Tepatnya Kota dan Kabupaten Sukabumi. Dari dua wilayah tersebut, satu diantaranya tercatat sebagai kabupaten terluas kedua di Pulau Jawa setelah Kabupaten Banyuwangi lantaran memiliki luas wilayah 4.128 km persegi. Meski begitu, keduanya kini didera penyakit serupa. Ya, sama-sama soal sampah.
Selain menikmati indahnya alam Sukabumi, wisatawan seringkali meninggalkan sampah yang menjadi masalah di kawasan tersebut.
Ironisnya, material sisa hasil aktivitas yang dibuang sebagai hasil dari proses produksi tersebut volumenya kian menggunung di Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) karena ada tambahan dari industri maupun rumah tangga.
Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Sukabumi yang diperbarui pada (3/5/2024) yang bersumber dari data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Sukabumi mencatat, ternyata selama tiga tahun terakhir dari tahun 2021 sampai 2023 jumlah sampah terus mengalami kenaikan signifikan. Sampah di tahun 2021 mencapai 49.221,92 ton, tahun 2022 bertambah menjadi 65.828,49 ton, dan di tahun 2023 tembus 67,308,30 ton.
Sedangkan Kabupaten Sukabumi, memiliki timbunan sampah tahunan paling banyak di Jawa Barat (Jabar), yakni 397,9 ribu ton per tahun 2021. Disamping itu, pola konsumsi masyarakat dan wisatawan menimbulkan jenis sampah yang beragam.
Permasalahan pengelolaan sampah ini tentunya tidak hanya terjadi di kota-kota besar, tetapi juga di kota-kota kecil dan sedang dengan kepadatan penduduk dan kegiatan ekonomi yang tinggi. Tidak ingin daerahnya dihantui oleh permasalahan sampah, Pemerintah Kota (Pemkot) dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukabumi bergerak cepat (gercep) untuk mencarikan solusi.
Sebagai upaya untuk mengurangi sampah di Kabupaten Sukabumi, Pemkab Sukabumi bekerjasama dengan pihak investor, yakni perusahaan PT. Cahaya Yasa Cipta (CYC) Thailand mengolah sampah menjadi keripik sampah. Tentunya keripik yang satu ini tidak bisa dimakan, lantaran dihasilkan dari proses Refused Derived Fuel (RDF) yang dilakukan pabrik.
Agar biaya produksi dalam menyulap sampah menjadi keripik sampah bisa ditekan, maka Pemkab Sukabumi bekerjasama dengan PT. CYC Thailand membangun pabrik Refused Derived Fuel (RDF) di TPA Cimenteng Kecamatan Cikembar, dimana progres pembangunannya sampai saat ini telah mencapai 90 persen.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sukabumi, Ade Suryaman mengaku pengolahan sampah dengan sistem teknologi RDF menjadi dambaan pemerintah daerah (pemda). Sebab, dirinya yakin bahwa sistem ini diyakini mampu mengurai masalah persampahan yang kemudian diolah menjadi energi baru dan terbarukan.
“Saya yakin dengan RDF yang merupakan teknologi pengolahan ini akan bisa mengurai volume sampah sampai 30 persen dan Alhamdulillah progres pengerjaan pabrik dan pengadaan mesin sudah mencapai 90 persen,” kata Ade Suryaman saat memimpin rapat pembahasan Progres Pembangunan Pabrik RDF di Pendopo Sukabumi pada Senin (11/11/2024).
Dengan pengolahan sampah yang menggunakan sistem teknologi RDF, lanjut Ade, diharapkan mampu menjadi sumber energi baru dan terbarukan pengganti batu bara.
“Bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Sukabumi, dengan keberadaan RDF ini diharapkan mampu berkontribusi pada target terbebas dari emisi pada 2025,” harapnya.
Ade juga mengemukakan bahwa volume sampah yang terbuang ke TPA Cimenteng setiap harinya overload, yakni mencapai 220–230 ton.
“Di sisi lain, kita tak ada lokasi alternatif lain membuang sampah. Karena itu, mesti ada sistem pengolahan sampah dengan teknologi,” imbuhnya.
RDF ini merupakan hasil pengolahan sampah yang dikeringkan, sehingga mampu menurunkan kadar air hingga kurang dari 25 persen dan menaikkan nilai kalornya.
“Tentunya sebelumnya dicacah terlebih dahulu untuk menyeragamkan ukuran menjadi 2–10 cm. Untuk itu RDRF ini juga sering disebut keripik sampah,” jelasnya.

Sebagai bentuk dukungan kepada Pemda Kabupaten Sukabumi menuju Indonesia bebas emisi 2050, PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Sukabumi melalui PLN Unit Pelaksana Pelayanan (ULP) Cikembar melaksanakan energizer pasang baru untuk PT. CYC dengan tarif/daya I3/1.385.000 VA. Hal ini sebagai bentuk komitmen PLN mendukung pertumbuhan industri dan usaha di Sukabumi, yang juga memberikan kontribusi positif terhadap keberlanjutan lingkungan.
“Momentum peringatan Hari Listrik Nasional ke-79 dan Hari Sumpah Pemuda ke-96 menjadi saat yang tepat untuk mendorong semangat kerja keras dan kemandirian melalui dukungan energi listrik yang andal,” terang Manager PLN UP3 Sukabumi, Yuniar Budi Satrio.
“Kami senang dapat mendukung bisnis operasional PT Cahaya Yasa Cipta. Kami juga berharap dengan dilaksanakan penyambungan baru ini, PT Cahaya Yasa Cipta dapat lebih optimal dalam menjalankan operasional usahanya, sehingga dapat memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat sekitar melalui keberlanjutan lingkungan,” ujarnya.
Manager PT. CYC, Kezia Marhiras menyampaikan rasa terimakasih atas dukungan yang diberikan oleh PLN.
“Kami mengucapkan terimakasih kepada PLN, khususnya PLN ULP Cikembar Sukabumi yang telah memberikan dukungan penuh kepada pabrik kami, sehingga pabrik kami sekarang sudah dapat teraliri listrik. Layanan terbaik dari PLN ini membuktikan komitmen PLN di Hari Jadi ke-79 Tahun. Selamat Hari Jadi PLN! Listrik untuk kehidupan yang lebih baik,” ungkapnya.
Sementara itu ditemui di tempat terpisah, General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Barat (Jabar) Susiana Mutia menegaskan bahwa PLN berkomitmen penuh untuk terus menyediakan pasokan listrik yang andal, stabil dan berkualitas demi mendukung usaha pelanggan.
“Inisiatif PT. Cahaya Yasa Cipta (CYC) yang mengolah sampah tidak berbahaya menjadi bahan bakar alternatif adalah langkah inovatif yang sejalan dengan visi PLN untuk menciptakan masa depan energi yang lebih bersih dan terjangkau,” kata Susiana Mutia.
Dengan pasokan listrik yang andal, pihaknya berharap PT. CYC dapat mengoptimalkan produksinya dan memberikan kontribusi positif terhadap pengurangan dampak lingkungan.
“PLN akan terus berkomitmen untuk mendukung usaha pelanggan di semua sektor termasuk sektor yang berfokus pada keberlanjutan energi bersih di Indonesia,” tutup Susiana.
Penandatanganan pemanfaatan Teknologi RDF pengubah sampah ini juga dilakukan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Sukabumi dengan pihak PT. Semen Jawa sebagai bentuk kolaborasi dalam pemanfaatan sampah menjadi Refused Derived yang berlangsung di Balai Kota Sukabumi pada Kamis (22/8/2024)
Direktur PT. Semen Jawa Peramas Wajajanawat sangat optimis dengan adanya kerja sama dengan Pembkot Sukabumi akan berdampak baik. “Ini merupakah langkah awal dari kerja sama yang baik antara kedua belah pihak,” optimisnya.
Sementara itu, Pj Wali Kota Sukabumi Kusmana Hartadji mengatakan, masalah sampah saat ini sudah menjadi isu global, sehingga memerlukan penanganan yang serius dan solusi inovatif dan berkelanjutan.
“Kerja sama ini adalah langkah solutif inovatif untuk mengurangi jumlah sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah Cikundul serta mengurangi konsumsi bahan bakar fosil,” kata Kusmana Hartadji di Balai Kota Sukabumi pada Kamis (22/8/2024).
“Mudah-Mudahan ini bukan hanya mengurangi volume sampah tapi juga bagaimana pemanfatan sampah sebagai upaya menghasilkan energi yang bersih dan terbarukan yang akan membawa kemanfatan bagi masyarakat kota Sukabumi,” pungkasnya. (*)






