Dia menilai, pelemahan tersebut disebabkan dari ketergantungan dana asing di pasar saham dan utang.
Selain kurs, defisit transaksi berjalan mencapai 5,5 miliar dolar AS di kuartal I-2018 dan defisit neraca perdagangan mencapai 1,63 miliar dolar AS pada April. Kemudian, konsumsi rumah tangga, stagnan 4,95 persen. Daya beli kelas menengah ke bawah alami pelemahan.
Pada sisi lain, lanjut Bhima, nilai impor migas kini berpotensi membesar karena harga minyak mentah terus merangkak naik.
“Akumulasi dari kondisi itu kalau dibiarkan akan memperlambat laju ekonomi sampai tahun 2019. Ekonomi bakal susah tumbuh di atas 5,1 persen, apalagi targetnya 5,4 persen,” ujarnya.
Wakil Ketua Umum Kamar Dagang Dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Industri Johnny Darmawan tidak menepis kondisi perekonomian di Tanah Air kurang bersahabat dengan dunia usaha.
“Beberapa industri sudah terkena dampak kondisi ekonomi, meskipun masih banyak industri yang mampu bertahan,” kata Johnny.



