BisnisEKONOMI

Dividen Pangkas Defisit Neraca

×

Dividen Pangkas Defisit Neraca

Sebarkan artikel ini
Menteri BUMN Rini Soemarno saat menyapa masyarakat di Gelora Delta Sidoarjo, Jawa Timur

JAKARTA -Pemerintah melakukan beragam cara menekan defisit neraca perdagangan yang terus membengkak.

Maklum, April tahun ini, neraca perdagangan minus USD 2,4 miliar. Itu menjadi yang terburuk sepanjang sejarah perjalanan bangsa.

bank BJB

Catatan itu, tentu menjadi noktah merah dan rapor negatif. Pasalnya, pemerintah tengah berusaha ekstra menekan defisit. Salah satunya dengan memaksa perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menyetor dividen secara besar-besaran.

Berdasar data, Kementerian BUMN edisi 2018 mematok setoran dividen Rp 45 triliun.

Nominal setoran dividen itu naik tipis dari periode 2017 di kisaran Rp 43 triliun. Lalu, pada edisi 2016 berada di posisi Rp 37 triliun, fase 2015 di level Rp 37 triliun.

Nah, 13 BUMN telah menyebar dividen Rp 62,4 triliun. Di mana, sekitar Rp 40,34 triliun masuk pundi-pundi pemerintah.

”Ya, wajar pemerintah kalau untuk mengurangi defisit salah satunya dari setoran dividen,” tutur analis Senior CSA Research Institute Reza Priyambada.
Reza menyebut pemerintah memang mendorong perusahaan BUMN untuk mendongkrak kinerja. Tidak hanya, perusahaan di bawah panji BUMN didorong menjadi leading sector pada unit usaha masing-masing untuk menggerakkan industri.

”Karena itu, harus ada sinergi antarusaha BUMN. Itu penting untuk menghindari persaingan tidak sehat,” imbuh Reza.

Sementara penyetor dividen paling besar PT Telekomunikasi Indonesia (TLKM) senilai Rp 16,23 triliun. Itu setara 90 persen laba perusahaan pada tahun lalu. Disusul PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) sebesar Rp 16,17 triliun atau 50 persen dari laba bersih tahun lalu, dan PT Bank Mandiri (BMRI) sebesar Rp 11,25 triliun atau 45 persen laba tahun lalu.

Pertamina biasanya menjadi penyumbang dividen terbesar, tahun ini menebar Rp 8,4 triliun. Seluruh dividen itu 10 persen masuk dompet pemerintah sebagai pemegang saham. Lalu PT Bukit Asam (PTBA) sebesar Rp 3,76 triliun atau 75 persen dari laba. PT Timah (TINS) menyebar dividen Rp 185 triliun dan PT Aneka Tambang (ANTM) senilai Rp 306 miliar.

PT Bank Negara Indonesia (BBNI) berbagi dividen Rp 3,74 triliun atau 25 persen laba. Lalu, Bank Tabungan Negara (BBTN) menyebar dividen Rp 561 miliar atau 20 persen dari laba.

PT Waskita Karya (WSKT) juga menggelontorkan dividen Rp 990, 7 miliar atau 25 persen laba. PT Adhi Karya (ADHI) membagi Rp 128,83 miliar, PT Wijaya Karya (WIKA) Rp 346,05 miliar, dan PT Pembangunan Perumahan (PTPP) Rp 300 miliar.

Sebelumnya, Menteri BUMN Rini Soemarno menyebut laba bersih seluruh BUMN tahun lalu tembus Rp 200 triliun.

Sebanyak 25 BUMN sukses membukukan laba bersih di atas Rp 1 triliun.

”Saat ditunjuk jadi menteri BUMN, keuntungan BUMN Rp 143 triliun, sekarang 2018 untung di atas Rp 200 triliun,” terang Rini.

(raf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *