EKONOMI

Cirata Bakal Jadi Ikon Listrik Tenaga Surya Terbesar di Asia Tenggara

×

Cirata Bakal Jadi Ikon Listrik Tenaga Surya Terbesar di Asia Tenggara

Sebarkan artikel ini
Pembangkit Listrik Tenaga Surya Cirata
Pembangkit Listrik Tenaga Surya Cirata.

RADARSUKABUMI.com – Menjadi negara tropis dengan paparan sinar matahari yang melimpah ruah sepanjang tahun merupakan salah satu anugerah bagi bangsa Indonesia. Pasalnya, hal ini membuka peluang Indonesia untuk mengembangkan teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

Sebagai salah satu energi alternatif terbarukan yang menjanjikan untuk menopang kebutuhan energi masyarakat, pembangkit listrik yang menggunakan sel surya Solar Photovoltaic (PV) untuk mengubah sinar radiasi matahari menjadi energi listrik yang ramah lingkungan, di Waduk Cirata saat ini sedang dibangun proyek PLTS Terapung pertama di Indonesia.

Bank bjb Tandamata

“Sebagai PLTS terbesar di Asia Tenggara, maka Cirata ke depan diharapkan akan menjadi ikon listrik surya di Indonesia,” demikian dikatatakan CEO Daniel Foundation, Daniel Haposan Harahap, dalam “Education Explore by Project” di Cirata, Jawa Barat, Kamis (4/11).

PLTS Terapung Cirata nantinya akan dijalankan oleh Pembangkitan Jawa Bali Masdar Solar Energi atau PMSE, yang merupakan perusahaan bentukan dari konsorsium cucu usaha PLN, yaitu PJBI dengan porsi saham 51 persen dengan perusahaan asal Uni Emirat Arab, Masdar dengan porsi saham 49 persen.

Selain dari sisi pengembangan EBT, PLTS Terapung yang ditargetkan bisa menghasilkan energi 245 juta kWh per tahunnya ini memegang peranan penting, dimana nantinya pembangkit ini akan memasok listrik untuk 50.000 rumah serta menyerap tenaga kerja hingga 800 orang.

Saat ini proses pembangunan proyek ini sementara berjalan, dilaksanakan oleh kontraktor China PT Sinohydro.

“Sebagai ikon listrik surya warga masyarakat di sekitar Cirata diharapkan bisa memahami apa dan bagaimana itu energi bersih khususnya PLTS,” katanya.

Dalam acara bertajuk “Energi Untuk Negeri, Edukasi Listrik Surya dari Desa Untuk Bangsa” ini, Daniel Foundation menggandeng Karang Taruna dan Generasi muda setempat.

Daniel Haposan Harahap dari Daniel Foundation (tengah) didampingi Project Advisor PLTS Cirata Andi Syukry Amal bersama peserta dalam acara edukasi seputar listrik surya di Cirata, Jawa Barat, Kamis (4/11).

Tujuannya untuk mengedukasi pemahaman masyarakat, khususnya pemuda desa di sekitar lokasi proyek.

Pemuda desa didorong untuk menciptakan ekonomi baru di tengah tengah pembangunan proyek strategis nasional ini, bukan sebagai pencari kerja di tengah keterbatasan skill.

Para pemuda diharapkan dapat menciptakan ide-ide baru untuk kesinambungan berbagai project PLTS ke depan baik PLTS terpusat dan Solar Home System (SHS). Seperti mengadakan kerjasama dengan berbagai instasi energi terbarukan untuk membuka kesempatan training sebagai life skill ke depan dalam perawatan atau pemasangan panel surya di berbagai daerah dan membuat orang mengingat bahwa pemuda Cirata memiliki life skill untuk pemasangan dan pemeliharaan.

“Dengan cara ini lapangan pekerjaan baru akan tercipta dan akan turun temurun, sehingga group kecil ini diharapkan dapat berkontribusi dalam pencapaian target bauran energi baru terbarukan nasional sebesar 23 persen pada 2025, sesuai dengan tujuan tema foundation ini dari desa untuk bangsa dimana “From Small Think, Big Things One Day Come,” jelas Daniel.

Daniel yang didampingi Project Advisor Proyek PLTS Cirata Andi Syukry Amal mengingatkan, selama ini energi listrik yang umumnya dipakai oleh masyarakat Indonesia berasal dari pembangkit tenaga listrik yang menggunakan bahan bakar fosil.

Kelemahan penggunaan bahan bakar fosil adalah pembakarannya menghasilkan gas rumah kaca sehingga menambah konsentrasi gas rumah kaca di bumi penyebab peningkatan suhu bumi dan pemanasan global.

Penggunaan tenaga surya tidak membutuhkan pembakaran sehingga tidak menghasilkan gas buang berupa gas rumah kaca.

Sementara pemanfaatan energi matahari, lanjut Daniel, dilakukan dengan mengubah sinar matahari menjadi energi panas atau listrik untuk memenuhi kebutuhan energi manusia.

Pemanfaatan tenaga surya dilakukan dengan mengubah sinar matahari secara langsung menjadi panas atau energi listrik.

Dua tipe dasar tenaga matahari adalah sinar matahari dan photovoltaic, yaitu tenaga matahari.

Bahan dasar untuk menangkap sinar matahari dan mengubahnya menjadi energi adalah bahan semi konduktor.

Umumnya bahan yang digunakan adalah bahan silikon. berwarna hitam.

Bahan dasar silikon ini dibuat menjadi lempengan dan dipasangi tiang agar bisa diarahkan langsung pada matahari.
Silikon adalah bahan yang dapat merefleksikan matahari seperti kaca.

Cara kerja lempengan silikon kaca atau yang bidas disebut sebagai solar panel adalah kaca-kaca silikon besar mengkonsentrasikan cahaya matahari ke satu garis atau titik.

Konsentrasi cahaya matahari akan menghasilkan panas. Lalu, panas yang dihasilkan digunakan untuk menghasilkan uap panas.

Panasnya tekanan uap digunakan untuk menjalankan turbin yang kemudian menghasilkan listrik.

PLTS di Indonesia ke depannya menurut Daniel, memiliki potensi yang besar.

Semakin banyak masyarakat yang ingin menggabungkan energi listrik konvensional seperti PLN dengan energi alternatif tenaga surya ini.

Selain diminati di skala perumahan, kedepannya PLTS ini akan banyak diminati oleh skala industri atau pabrik.

Diprediksi di masa depan biaya listrik akan terus meningkat sehingga tagihan biayanya terus membengkak.

Untuk penghematan biaya dan energi, PLTS akan banyak diaplikasikan untuk kebutuhan industri atau pun pabrik.

Penggunaan energi alternatif untuk gedung komersial, seperti gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, hotel, rumah sakit, dan lainnya, juga telah terbukti lebih hemat, efektif dan efisien.

Pemerintah telah mulai menggunakan energi terbarukan dengan pembangkit listrik tenaga surya untuk mendukung program infrastruktur atau pembangunan.

“Salah satu contohnya adalah untuk elektrifikasi pedesaan,” kata Daniel.

Untuk itu, edukasi pemanfaatan energi surya ini bisa menginspirasi tidak hanya bagi masyarakat desa di sekitar lokasi proyek PLTS Cirata.

Menurutnya, masih banyak desa-desa di Indonesia yang belum mendapatkan akses listrik secara merata.

Meskipun angka rasio elektrifikasi perdesaan mencapai 99,48% atau meningkat signifikan 84% dari tahun 2019, per Agustus 2020 masih terdapat 433 desa di Indonesia yang belum teraliri listrik.

Secara terperinci, 433 desa tersebut terbagi di daerah Papua sebanyak 325 desa, Papua Barat sebanyak 102 desa, Nusa Tenggara Timur sebanyak 5 desa, dan Maluku 1 desa.

“Dengan menggunakan energi alternatif dari tenaga surya, diharapkan akses listrik akan dapat segera dinikmati secara merata oleh semua masyarakat Indonesia,” pungkas Daniel. (pojoksatu)