BI: Harga Komoditas Membaik pada 2020

  • Whatsapp
Dery Ridwansah/JawaPos.com TEBAR SENYUM: Destry Damayanti resmi menjadi Deputi Gubernur Senior BI periode 2019-2024 usai pengambilan sumpah jabatan yang disaksikan Ketua MA Hatta Ali di Gedung Mahkamah Agung RI, Jakarta, Rabu (7/8).

JAKARTA, RADARSUKABUMI.com – Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok yang semakin memanas diperkirakan akan berlanjut pada 2020 mendatang. Perangnya kedua negara adidaya itu membuat negara berkembang kembali mengalami tekanan, seiring melemahnya volume perdagangan dunia.

Berdasarkan catatan Bank Indonesia (BI), volume perdagangan nasional diperkirakan akan mulai menurun pada 2019 menjadi 1,6 persen. Imbasnya, pertumbuhan harga komoditas ekspor Indonesia ikut menyusut sebesar 3,3 persen.

Bacaan Lainnya

“Penurunan ini disebabkan oleh penurunan harga komoditas pertambangan, maupun pertanian. Harga komoditas ekspor utama Indonesia seperti tembaga, minyak nabati, dan timah diperkirakan menurun pada 2019,” kata Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (28/8).

Destry mengatakan, masalah tersebut tak hanya dialami oleh Indonesia. Ia menyebut, negara-negara maju seperti negara Eropa, Jepang, Tiongkok sampai dengan India juga mengalami penurunan permintaan eksternal serta domestik.

“Pertumbuhan ekonomi AS diperkirakan lebih rendah akibat menurunnya ekspor dan investasi nonresidensial,” bebernya.

Ke depan, Destry memperkirakan, harga komoditas akan membaik pada 2020. Hal itu seiring dengan perkiraaan pertumbuhan ekonomi dunia dan volume perdagangan yang meningkat, namun terbatas.

Secara komposit, harga komoditas diprediksi akan mengalami kontraksi tipis sebesar 0,6 persen. BI pun melakukan berbagai upaya untuk dapat merangsang stimulus fiskal dan memperlonggar kebijakan moneter demi meningkatkan pertumbuhan dalam negeri.

“Kami perkirakan ada perbaikan harga komoditas pada 2020. Langkah pelonggaran kebijakan moneter juga ditempuh antara lain oleh India, Filipina, Malaysia, Thailand juga Korea,” pungkasnya.

Sebelumnya, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyatakan, turunnya harga komoditas andalan Indonesia seperti batubara dan minyak mempengaruhi penerimaan pajak hingga Juli 2019. Data Kemenkeu menunjukkan, pertumbuhan realisasi penerimaan perpajakan hingga dengan Juli 2019 tumbuh sebesar 3,9 persen. Angka itu lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang tumbuh 14,6 persen.

“Sektor yang berbasis komoditas semuanya melemah, sementara sektor konstruksi masih cenderung merestitusi pajak,” kata Direktur Jenderal Pajak Robert, Pakpahan dalam paparan APBN KiTa di Kantor Kemenkeu beberapa waktu lalu.

 

(igm)

Pos terkait

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *